Dia ini menganggap aku sebagai apa? Perempuan bayaran?Penghinaan yang begitu terang-terangan membuat wajahku pucat, seluruh tubuh gemetar. Aku hendak membantahnya, ketika ponselku tiba-tiba berdering, itu pesan dari suamiku.[Istriku, kamu kambuh lagi? Cepat kirim lokasimu, aku ke sana sekarang.][Tadi aku rapat proyek, ponselku aku setel mode jangan ganggu, jadi tidak lihat pesanmu.]Ternyata suamiku bukan sengaja tak membantuku, dia benar-benar tidak melihat pesan itu. Memikirkan apa yang baru saja kulakukan dengan pria yang bahkan baru sekali kutemui, penyesalan dan rasa bersalah langsung menyesakkan dadaku, bercampur dengan rasa terhina dan sedih.“Suamiku, andai saja kamu menghubungiku lebih cepat, aku tak akan mengkhianati kamu seperti ini,” bisikku.Aku mengusap air mata di wajah, melotot tajam ke arah Surya, lalu keluar tanpa menoleh lagi. Tak lama kemudian, suamiku datang tergopoh-gopoh. Melihatku tampak normal, dia justru tertegun.“Istriku, bukankah kamu bilang sedang kambu
Read more