Share

Bab 2

Author: Peach
Aku tak bisa berlama-lama. Jadi meski tubuhku masih terasa lemah, aku tetap membereskan diri secepat mungkin, lalu membuka pintu dan keluar.

Di depan pintu, Surya berdiri, menatapku dari atas ke bawah. “Bu Lisa tidak apa-apa? Wajah Anda kelihatan sangat merah.”

Ekspresinya tampak serius, sehingga aku tak bisa memastikan apakah ia menyimpan maksud lain atau tidak. Namun sorot matanya yang panas membuatku kembali bergetar.

Aku menunduk, menghindari pandangannya, lalu memaksakan senyum sopan. “Tidak apa-apa, cuma sedikit gerah.”

“Kalau begitu, saya bantu gantungkan jaketnya, ya. Sini.”

Menghadapi tawarannya, aku tak enak menolak dan menurut saja. Hanya saja, aku lupa satu hal penting. Tadi pagi aku pergi terlalu terburu-buru. Aku belum sempat memakai bra.

Begitu jaket dilepas, langsung terpampang buah dada ukuran 36E milikku, seakan hampir meledak.

Akibat gerakan melepas jaket, dadaku bergetar, kemeja putih yang aku kenakan sama sekali tidak bisa menutupi warna kulit asliku yang menggoda, apa lagi ujung dadaku yang menonjol.

Gerakanku yang tergesa membuat ujung dadaku menggesek lengan Surya. Sentuhan singkat yang tak disengaja membuat tubuhku menegang seketika dan hampir mengerang.

Aku membeku. Tak ada tempat untuk bersembunyi.

Astaga, ini terasa begitu memalukan sekaligus menegangkan. Dia mengelus bagian yang tadi terkena gesekan payudaraku, dan melihatku bergegas menjauh.

Dengan perasaan tak menentu aku duduk kembali di bangku. Syukurlah Citra tenggelam dalam bukunya dan tidak memperhatikan apa pun.

Tanpa kusadari, Surya sudah berdiri di belakangku. Alasannya sederhana, mengamati proses belajar antara aku dengan Citra. Namun aku tahu, pandangannya saat ini sama sekali tidak jatuh pada buku pelajaran. Aku tak bisa menolak, karena yang terpenting adalah menjaga agar Citra tidak curiga.

Sekarang sulit bagiku untuk tetap menjaga kewarasan. Aku menjelaskan pelajaran dengan suara datar, sementara pikiranku sibuk menahan kegelisahan karena gerakan pria di belakangku.

Otakku yang tersiksa karena kecanduan seksual memang sudah kotor. Aku menahan rasa tidak nyaman di tubuhku yang menegang.

Nanti jika Citra tidak memperhatikan, aku harus cari cara memuaskan diri sebentar.

Mungkin mendengar suar hatiku, tangan Surya diam-diam menyentuh dari bawah, bahkan sempat meremas beberapa kali.

Seketika, sensasi aneh menjalar dari satu titik ke seluruh tubuhku, membuat jantungku berdegup lebih cepat. Kegelisahan itu menguras tenagaku. Aku nyaris kehilangan keseimbangan dan tanpa sadar bersandar ke belakang, sepenuhnya menyerahkan diri dalam pelukan pria itu.

Wajahku memerah. Tanganku bergetar saat berusaha menarik tangan Surya untuk menjauh. Namun karena rasa nyaman dari sentuhan itu, aku tidak punya kekuatan. Dan akhirnya menyerahkan tubuhku untuk dikendalikan sesuka hati oleh pria itu.

Aku memusatkan pandangan pada Citra di depanku, takut jika ia tiba-tiba menoleh dan menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Bagaimana pun juga, hal ini terjadi di depan anak-anak ….

Merasakan reaksiku, Surya tidak puas hanya dengan ini. Perlahan, satu tangannya bergerak ke bawah, menyusuri garis pinggangku. Pakaianku perlahan ditarik sampai pinggul, suara ritsleting yang dibuka terdengar beriringan dengan suara goresan tulisan Citra.

Aku merasakannya. Bagian tubuhku tersingkap, pasti sekarang bokongku sudah tidak tertutup rok lagi. Sementara itu terdengar bunyi gesper ikat pinggang yang dilonggarkan, membuat suasana makin tegang.

Tiba-tiba sesuatu yang panas dan keras menyentuh kulitku, seperti batang besi panas sedang dihunuskan ke arahku, menciptakan rasa terkejut, tertekan, dan berbahaya. Surya memang tinggi dan terlihat kuat, tapi aku tidak menyangka di bagian itu juga terasa sangat kuat dan berani. Tentu lebih hebat dari vibrator yang aku beli secara online itu.

Aku tahu, jika lengah sedikit saja, kendaliku bisa runtuh dan takutnya aku pasti sudah menusukkannya langsung. Aku terus berusaha tenang, meski kecanduanku membuatku sulit mengendalikan diri ketika menghadapi rangsangan yang kuat dan intens.

Hanya saja ….

Apakah aku akan kehilangan kendali di depan muridku dan melakukannya dengan Surya? Lalu bagaimana dengan suamiku? Apa yang akan dilakukan suamiku?

Aku membuka mulutku dan menarik napas dengan kasar, berusaha menenangkan diri. Tangan kecilku meregang ke belakang dengan bergetar, hendak menolak Surya, tapi dia malah salah paham dan langsung menarik tanganku untuk menyentuh miliknya yang keras dan panas itu. Ternyata dugaanku benar, tanganku tidak cukup untuk menggenggam miliknya yang terlalu besar.

Situasi ini sangat canggung ….

Tidak. Ini tidak bisa terus begini.

“Citra,” kataku, mengerahkan seluruh tenaga agar suaraku terdengar normal. “Sekarang Ibu mau menguji hafalanmu. Ibu baca, kamu tulis ya.”

Citra sama sekali tidak menyadari kegelisahanku, kemudian menjawab dengan patuh, “Baik.”

“Baiklah, sekarang tutup matamu dan jangan melihat buku.”

Melihat Citra mengenakan penutup mata, beban besar di hatiku akhirnya terasa lebih lega. Tetapi, pada saat yang sama, aku sadar bahwa hal itu membuat Surya merasa tidak perlu lagi menahan diri, sehingga situasi justru menjadi lebih berbahaya.

Tangan Surya langsung memegang leherku dan membuka kancing pertama kemejaku. Baru saja selesai membaca kata pertama, kemejaku sudah sepenuhnya dibuka. Tubuhku ditekan di meja dan pinggulku diangkat tinggi.

Dari belakang tubuhku, Surya melakukan satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku dari serangan kecanduan ini. Suaraku terdengar semakin bergetar. Sementara jari Surya bergerak semakin tak terkendali.

Seperti yang aku pikirkan sebelumnya, hanya dengan jarinya saja bisa menguasai tubuhku, dan gerakannya bisa membuatku langsung mengucur deras.

Helaan napasku yang tertahan secara bertahap mengaburkan setiap kata yang aku baca. Dan pria di belakangku itu jelas terkejut dan senang dengan sensitivitas tubuhku. Tangannya yang sekarang telah basah oleh cairanku, memegang payudaraku.

“Ibu Guru sungguh sensitif,” bisiknya.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menutup mata.

Ketika aku membacakan kalimat keenam, hal yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya dimulai. Kini, lubangku sudah tidak dimainkan oleh jari pria. Surya perlahan memasukkan miliknya yang besar dan kuat itu ke dalam lubangku. Dan seketika itu akal sehatku mulai buyar.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 7

    Seluruh sel di tubuhku seakan-akan dengan gila menyampaikan satu-satunya pesan ke otakku, yaitu, “Aku mau!”Surya membuka ikat pinggangnya, berdiri tidak jauh dariku, kemudian memanggilku seperti sedang mengerjai seekor anjing. “Merangkak ke sini sambil berlutut, memohonlah padaku!”Aku melakukannya tanpa ragu sedikit pun, menengadah dengan tak sabar, pandanganku kabur dan linglung.“Tolong … tolong bantu aku .…” rintihku.Entah sudah berapa lama berlalu, langit di luar jendela perlahan menggelap, dan dupa yang menyala itu pun akhirnya habis terbakar. Kepalaku berangsur-angsur kembali jernih. Saat kesadaranku pulih dan akal sehat kembali, aku benar-benar ingin menampar diriku sendiri.Yang kemarin sudah melampaui batas, itu saja seharusnya cukup. Kali ini, suamiku bahkan berjaga di luar pintu, tapi aku lagi-lagi ….“Kali ini performamu lumayan, aku puas. Ingat baik-baik, mulai sekarang kapan pun kupanggil, kamu harus datang. Mengerti?”Surya dengan santai membakar rokok, lalu menyalaka

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 6

    Sebenarnya, setelah kejadian dengan Surya tadi, aku sama sekali tidak berminat. Tapi aku juga tidak ingin suamiku curiga. Aku pun tidak punya pilihan lain selain berpura-pura senang dan membalas ciuman suamiku.Saat melihat suamiku memperlihatkan kejantanan miliknya yang sudah begitu familier dan kemudian mendekat kepadaku, di dalam hatiku, alih-alih muncul gairah, malah terselip rasa enggan yang sulit kujelaskan.Tak bisa dipungkiri. Setelah melihat yang lebih baik, dan merasakan perbedaan itu, wajar jika muncul perbandingan di dalam hati. Dulu, ketika hanya ada suamiku seorang, aku tidak pernah merasa ada yang janggal. Namun kini, jika dibandingkan dengan Surya, rasanya seperti langit dan bumi.Aku memejamkan mata, tanpa sadar bayangan kebersamaan aku dengan Surya hari ini kembali muncul di benakku. Sedikit demi sedikit, barulah tubuhku merespons. Tapi bahkan sebelum apa pun benar-benar terjadi, suamiku sudah selesai.Aku melirik waktu di ponsel, meski sudah minum obat, baru sekitar

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 5

    Kalau memang tidak menaruh curiga, pertanyaan seperti itu tak mungkin dilontarkan. Surya pun tampak jelas ikut menegang, meski senyum masih dipaksakan di wajahnya.“Tidak ada, kok. Istrimu mengajar dengan sangat baik.”Suamiku mengangguk. Setelah melirikku sekilas, ia kembali bertanya, “Waktu dia tadi ke kamar mandi, kamu dengar sesuatu tidak?”Surya mengatupkan bibir, refleks melirik ke arahku. Melihatku yang gelisah, entah apa yang terlintas di benaknya, ia justru berkata jujur, “Eh … sepertinya iya, memang sempat dengar. Seperti ada suara dengungan alat listrik.”Suamiku menghela napas panjang, kemudian berkata, “Ah, ini benar-benar aib keluarga. Ini mungkin bakal membuatmu tertawa.”“Istriku ini, dia kena penyakit kecanduan seksual, dia selalu butuh laki-laki.”Hal paling pribadi seperti itu justru dikatakan terang-terangan oleh suamiku!Aku panik, wajah dan tubuhku panas seperti terbakar. Sekalipun Surya tadi sempat berhubungan intim denganku, aku tetap tak ingin hal memalukan ini

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 4

    Dia ini menganggap aku sebagai apa? Perempuan bayaran?Penghinaan yang begitu terang-terangan membuat wajahku pucat, seluruh tubuh gemetar. Aku hendak membantahnya, ketika ponselku tiba-tiba berdering, itu pesan dari suamiku.[Istriku, kamu kambuh lagi? Cepat kirim lokasimu, aku ke sana sekarang.][Tadi aku rapat proyek, ponselku aku setel mode jangan ganggu, jadi tidak lihat pesanmu.]Ternyata suamiku bukan sengaja tak membantuku, dia benar-benar tidak melihat pesan itu. Memikirkan apa yang baru saja kulakukan dengan pria yang bahkan baru sekali kutemui, penyesalan dan rasa bersalah langsung menyesakkan dadaku, bercampur dengan rasa terhina dan sedih.“Suamiku, andai saja kamu menghubungiku lebih cepat, aku tak akan mengkhianati kamu seperti ini,” bisikku.Aku mengusap air mata di wajah, melotot tajam ke arah Surya, lalu keluar tanpa menoleh lagi. Tak lama kemudian, suamiku datang tergopoh-gopoh. Melihatku tampak normal, dia justru tertegun.“Istriku, bukankah kamu bilang sedang kambu

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 3

    Aku berusaha terus mengangkat pantatku, sambil mengikuti ritme gerakan Surya. Setiap hentakan tubuhnya semakin bertambah kuat. Ini kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, seperti membawa jiwaku kembali ke tubuh. Sama sekali berbeda dengan pengalaman bersama suamiku. Dan saat ini aku merasa benar-benar menjadi seorang wanita.“Ahh ….”Wajahku memerah, tanpa bisa menahan diri, suara itu pun lolos dari bibirku. Di seberang sana, Citra yang matanya masih tertutup mendadak terdiam kaku, lalu mengangkat kepala dengan bingung.“Ibu Guru, kamu, kamu kenapa?”“Tidak … Ibu tidak apa-apa ….”Aku terengah-engah menarik napas besar-besar, berusaha sekuat tenaga menjaga suaraku tetap terdengar normal, supaya Citra tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Namun kekuatan Surya memang terlalu besar. Mejaku bergoyang semakin keras, bahkan sekarang Citra mulai menyadari ada yang salah.“Ibu Guru, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya Citra sambil melepas penutup matanya.Aku berseru kaget

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 2

    Aku tak bisa berlama-lama. Jadi meski tubuhku masih terasa lemah, aku tetap membereskan diri secepat mungkin, lalu membuka pintu dan keluar.Di depan pintu, Surya berdiri, menatapku dari atas ke bawah. “Bu Lisa tidak apa-apa? Wajah Anda kelihatan sangat merah.”Ekspresinya tampak serius, sehingga aku tak bisa memastikan apakah ia menyimpan maksud lain atau tidak. Namun sorot matanya yang panas membuatku kembali bergetar.Aku menunduk, menghindari pandangannya, lalu memaksakan senyum sopan. “Tidak apa-apa, cuma sedikit gerah.”“Kalau begitu, saya bantu gantungkan jaketnya, ya. Sini.”Menghadapi tawarannya, aku tak enak menolak dan menurut saja. Hanya saja, aku lupa satu hal penting. Tadi pagi aku pergi terlalu terburu-buru. Aku belum sempat memakai bra.Begitu jaket dilepas, langsung terpampang buah dada ukuran 36E milikku, seakan hampir meledak. Akibat gerakan melepas jaket, dadaku bergetar, kemeja putih yang aku kenakan sama sekali tidak bisa menutupi warna kulit asliku yang menggoda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status