LOGINSeluruh sel di tubuhku seakan-akan dengan gila menyampaikan satu-satunya pesan ke otakku, yaitu, “Aku mau!”Surya membuka ikat pinggangnya, berdiri tidak jauh dariku, kemudian memanggilku seperti sedang mengerjai seekor anjing. “Merangkak ke sini sambil berlutut, memohonlah padaku!”Aku melakukannya tanpa ragu sedikit pun, menengadah dengan tak sabar, pandanganku kabur dan linglung.“Tolong … tolong bantu aku .…” rintihku.Entah sudah berapa lama berlalu, langit di luar jendela perlahan menggelap, dan dupa yang menyala itu pun akhirnya habis terbakar. Kepalaku berangsur-angsur kembali jernih. Saat kesadaranku pulih dan akal sehat kembali, aku benar-benar ingin menampar diriku sendiri.Yang kemarin sudah melampaui batas, itu saja seharusnya cukup. Kali ini, suamiku bahkan berjaga di luar pintu, tapi aku lagi-lagi ….“Kali ini performamu lumayan, aku puas. Ingat baik-baik, mulai sekarang kapan pun kupanggil, kamu harus datang. Mengerti?”Surya dengan santai membakar rokok, lalu menyalaka
Sebenarnya, setelah kejadian dengan Surya tadi, aku sama sekali tidak berminat. Tapi aku juga tidak ingin suamiku curiga. Aku pun tidak punya pilihan lain selain berpura-pura senang dan membalas ciuman suamiku.Saat melihat suamiku memperlihatkan kejantanan miliknya yang sudah begitu familier dan kemudian mendekat kepadaku, di dalam hatiku, alih-alih muncul gairah, malah terselip rasa enggan yang sulit kujelaskan.Tak bisa dipungkiri. Setelah melihat yang lebih baik, dan merasakan perbedaan itu, wajar jika muncul perbandingan di dalam hati. Dulu, ketika hanya ada suamiku seorang, aku tidak pernah merasa ada yang janggal. Namun kini, jika dibandingkan dengan Surya, rasanya seperti langit dan bumi.Aku memejamkan mata, tanpa sadar bayangan kebersamaan aku dengan Surya hari ini kembali muncul di benakku. Sedikit demi sedikit, barulah tubuhku merespons. Tapi bahkan sebelum apa pun benar-benar terjadi, suamiku sudah selesai.Aku melirik waktu di ponsel, meski sudah minum obat, baru sekitar
Kalau memang tidak menaruh curiga, pertanyaan seperti itu tak mungkin dilontarkan. Surya pun tampak jelas ikut menegang, meski senyum masih dipaksakan di wajahnya.“Tidak ada, kok. Istrimu mengajar dengan sangat baik.”Suamiku mengangguk. Setelah melirikku sekilas, ia kembali bertanya, “Waktu dia tadi ke kamar mandi, kamu dengar sesuatu tidak?”Surya mengatupkan bibir, refleks melirik ke arahku. Melihatku yang gelisah, entah apa yang terlintas di benaknya, ia justru berkata jujur, “Eh … sepertinya iya, memang sempat dengar. Seperti ada suara dengungan alat listrik.”Suamiku menghela napas panjang, kemudian berkata, “Ah, ini benar-benar aib keluarga. Ini mungkin bakal membuatmu tertawa.”“Istriku ini, dia kena penyakit kecanduan seksual, dia selalu butuh laki-laki.”Hal paling pribadi seperti itu justru dikatakan terang-terangan oleh suamiku!Aku panik, wajah dan tubuhku panas seperti terbakar. Sekalipun Surya tadi sempat berhubungan intim denganku, aku tetap tak ingin hal memalukan ini
Dia ini menganggap aku sebagai apa? Perempuan bayaran?Penghinaan yang begitu terang-terangan membuat wajahku pucat, seluruh tubuh gemetar. Aku hendak membantahnya, ketika ponselku tiba-tiba berdering, itu pesan dari suamiku.[Istriku, kamu kambuh lagi? Cepat kirim lokasimu, aku ke sana sekarang.][Tadi aku rapat proyek, ponselku aku setel mode jangan ganggu, jadi tidak lihat pesanmu.]Ternyata suamiku bukan sengaja tak membantuku, dia benar-benar tidak melihat pesan itu. Memikirkan apa yang baru saja kulakukan dengan pria yang bahkan baru sekali kutemui, penyesalan dan rasa bersalah langsung menyesakkan dadaku, bercampur dengan rasa terhina dan sedih.“Suamiku, andai saja kamu menghubungiku lebih cepat, aku tak akan mengkhianati kamu seperti ini,” bisikku.Aku mengusap air mata di wajah, melotot tajam ke arah Surya, lalu keluar tanpa menoleh lagi. Tak lama kemudian, suamiku datang tergopoh-gopoh. Melihatku tampak normal, dia justru tertegun.“Istriku, bukankah kamu bilang sedang kambu
Aku berusaha terus mengangkat pantatku, sambil mengikuti ritme gerakan Surya. Setiap hentakan tubuhnya semakin bertambah kuat. Ini kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, seperti membawa jiwaku kembali ke tubuh. Sama sekali berbeda dengan pengalaman bersama suamiku. Dan saat ini aku merasa benar-benar menjadi seorang wanita.“Ahh ….”Wajahku memerah, tanpa bisa menahan diri, suara itu pun lolos dari bibirku. Di seberang sana, Citra yang matanya masih tertutup mendadak terdiam kaku, lalu mengangkat kepala dengan bingung.“Ibu Guru, kamu, kamu kenapa?”“Tidak … Ibu tidak apa-apa ….”Aku terengah-engah menarik napas besar-besar, berusaha sekuat tenaga menjaga suaraku tetap terdengar normal, supaya Citra tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Namun kekuatan Surya memang terlalu besar. Mejaku bergoyang semakin keras, bahkan sekarang Citra mulai menyadari ada yang salah.“Ibu Guru, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya Citra sambil melepas penutup matanya.Aku berseru kaget
Aku tak bisa berlama-lama. Jadi meski tubuhku masih terasa lemah, aku tetap membereskan diri secepat mungkin, lalu membuka pintu dan keluar.Di depan pintu, Surya berdiri, menatapku dari atas ke bawah. “Bu Lisa tidak apa-apa? Wajah Anda kelihatan sangat merah.”Ekspresinya tampak serius, sehingga aku tak bisa memastikan apakah ia menyimpan maksud lain atau tidak. Namun sorot matanya yang panas membuatku kembali bergetar.Aku menunduk, menghindari pandangannya, lalu memaksakan senyum sopan. “Tidak apa-apa, cuma sedikit gerah.”“Kalau begitu, saya bantu gantungkan jaketnya, ya. Sini.”Menghadapi tawarannya, aku tak enak menolak dan menurut saja. Hanya saja, aku lupa satu hal penting. Tadi pagi aku pergi terlalu terburu-buru. Aku belum sempat memakai bra.Begitu jaket dilepas, langsung terpampang buah dada ukuran 36E milikku, seakan hampir meledak. Akibat gerakan melepas jaket, dadaku bergetar, kemeja putih yang aku kenakan sama sekali tidak bisa menutupi warna kulit asliku yang menggoda







