Share

Hasrat Terlarang Seorang Tutor
Hasrat Terlarang Seorang Tutor
Penulis: Peach

Bab 1

Penulis: Peach
Namaku Lisa, aku seorang guru. Setelah menikah, karena terlalu sering dieksploitasi oleh suamiku, aku mempunyai sebuah gangguan kecanduan yang memalukan.

Entah sejak kapan, bahkan sentuhan sekecil apa pun bisa memicu kenikmatan puluhan kali lipat di dalam tubuhku.

Pikiranku dipenuhi hasrat untuk diisi dan dipenuhi. Hanya dengan bayangan-bayangan erotis di kepala saja sudah cukup membuatku mencapai klimaks di mana pun aku berada.

Bahkan gesekan saat berjalan pun bisa membuatku basah, sampai-sampai aku ingin dipuaskan setiap saat. Saat kambuh, rasanya seperti ada puluhan serangga kecil merayap di tubuhku, rasa gatalnya benar-benar tak tertahankan.

Karena itu, aku meminta suamiku membantuku meredakannya. Pada awalnya, dia menikmatinya dan ketagihan, tetapi perlahan-lahan, suamiku tak lagi mampu memenuhi hasratku yang terus meningkat. Suatu kali setelah penyakitku kambuh, suamiku meninggalkanku begitu saja, sambil mengumpat dan menarik kembali celananya.

“Sial, kambuh lagi!”

“Aku setiap hari masih harus bekerja. Lain kali kamu cari cara sendiri saja deh!”

Setelah berkata seperti itu, suamiku pergi. Menyisakan aku seorang diri, gemetar, berlutut dan menelungkup di atas meja kerja. Gelombang kenikmatan membuat wajahku memerah. Kedua tanganku yang lemas bahkan tak punya tenaga untuk merapikan kembali kemejaku yang kusut. Lubang belakangku yang bengkak sedang menahan cairan putih keruh, namun tetap tak kenal lelah mengatup dan membuka. Kekosongan di belakang membuat sekujur tubuhku terasa gatal.

Di udara masih tertinggal aroma yang begitu familier, siapa pun bisa tahu apa yang baru saja terjadi di sini. Sedangkan di lantai berserakan jejak-jejak basah milikku yang diam-diam mengingatkan pada kegilaanku barusan. Namun semua yang sudah dilakukan tadi hanya meredakan sedikit saja.

Tak ada jalan lain, sekarang suamiku benar-benar sudah tak mampu memuaskanku lagi.

Aku segera menyemprotkan pengharum ruangan, merapikan kantor, lalu berbalik pergi untuk mengajar privat.

Meski bantuan suamiku tadi sudah cukup meredakan, demi berjaga-jaga aku tetap membawa obat. Namun aku tak menyangka, orang tua murid itu adalah seorang pria bertubuh kekar. Pada detik pertama bertemu Surya, bagian bawah perutku langsung bergejolak, berdenyut tak terkendali.

Bukan hanya tingginya yang melampaui suamiku hampir satu kepala, kedua pahanya juga kekar bahkan lebih besar dari pinggangku. Tubuh bagian atasnya yang penuh otot seolah bisa membungkus seluruh tubuhku. Kedua tangannya pasti dapat dengan mudah mencengkeram pergelangan tanganku dan menekanku di mana saja. Jari-jarinya yang kasar dan kuat akan meninggalkan jejak di tubuhku, lalu akhirnya menyusup ke bagian paling privat di belakang. Cukup digerakkan beberapa kali saja pasti sudah bisa membuatku mencapai klimaks seketika.

Tanpa sadar aku menatap ke bawah, pada tonjolan yang mengangkat celana Surya itu. Jariku refleks mengerut, dan aku terkejut menyadari bahwa tanganku mungkin tak sanggup menggenggam alat mengerikan itu.

Ya Tuhan … ini pertama kalinya aku melihat yang sebesar itu ….

Saat kegelisahanku kian memuncak, tatapan Surya yang mengamati aku pun mulai terasa membara. Aku datang dengan tergesa-gesa, tanpa sengaja membuat satu kancing di kerah bajuku salah terpasang. Akibatnya, bagian dadaku terbuka sedikit, lekuk yang terhimpit oleh dadaku itu terlihat jelas.

Di bawah sorot matanya aku bergetar pelan, merasakan tubuhku mulai memanas. Kenikmatan yang menggelora bercampur kekosongan perlahan membakar kewarasanku. Surya menelan ludah, pandangannya menyapu ujung rok pensilku, saat berbicara nadanya terdengar sarat makna.

“Ibu Lisa, ya? Kita pertama kali bertemu. Anda sama seperti yang diceritakan putri saya, cantik sekali.”

Dengan canggung aku menarik-narik ujung rok pensilku. Wajahku terasa panas, tapi tetap bisa menjawabnya dengan, “Terima kasih.”

Di ruang tamu, muridku, Citra, sudah membuka buku dan menungguku, sementara di sampingnya tergeletak setumpuk peralatan kebugaran.

Surya menggaruk kepala, tersenyum sambil menjelaskan, “Kamar Citra sedang direnovasi, jadi belajarnya terpaksa di ruang tamu.”

“Baik, tidak apa-apa,” jawabku sopan.

Kemudian aku duduk untuk mulai mengajar Citra, tetapi pikiranku sulit sekali berkonsentrasi.

Dari belakang, terdengar tarikan napas berat seorang pria, iramanya teratur namun cukup mengganggu fokusku. Setiap helaan nafasnya menambah hawa nafsu dalam tubuhku yang sudah terasa panas sejak tadi.

Aku perlahan menoleh, melirik sedikit, dan dari sudut mataku terlihat pria yang tampak berkeringat deras. Surya mengenakan kaus tanpa lengan yang longgar, sedang melakukan push up. Setiap kali ia bergerak, otot-ototnya menegang dan mengendur bergantian, memancarkan hormon yang sulit diabaikan. Naik-turun tubuhnya diiringi desahan yang seksi khas seorang pria. Dan itu terdengar seperti sedang ….

Aku diam-diam merapatkan kedua kaki, berusaha menekan hasrat yang hampir memuncak.

Tidak, tidak boleh. Ini rumah muridku. Aku tak berani membayangkan jika terjadi sesuatu yang memalukan, bagaimana mungkin aku masih bisa kembali mengajar dengan kepala tegak?

“Bu Guru, apa Ibu gatal?” Pertanyaan Citra langsung menyadarkan aku, membuatku terkejut hingga kata-kataku tersendat.

“Ka-kamu bilang apa?”

Dengan mata besar polosnya, Citra menunjuk ke arah kakiku yang sedang aku gesekkan erat-erat.

“Tidak apa-apa, Ibu cuma, ingin ke toilet,” ucapku mencari alasan sembarangan, kemudian buru-buru beranjak menuju toilet.

Namun tepat sebelum masuk toilet, aku merasakan ada tatapan yang tertuju padaku. Ketika melirik sekilas, kulihat Surya memandang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pandangannya fokus pada pantatku, dan sekilas aku melihat seringai samar dari bibirnya yang membuatku hampir bergetar.

Sial.

Citra masih kecil, belum mengerti apa pun.

Namun Surya berbeda. Dari sorot matanya, seolah ia sudah menebak ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya aku akan diliputi kekhawatiran, takut orang tua murid melaporkanku. Tetapi saat itu aku bahkan tak sempat memikirkan sejauh itu, karena kondisiku kembali kambuh.

Dengan tangan gemetar aku merogoh tas, mencari obat penenang. Namun yang aku temukan hanyalah botol kosong. Bodoh, aku lupa mengisinya.

Bersamaan dengan kepanikan itu, seluruh tubuhku terus merasakan panas dan titik sensitif milikku terasa sangat gatal. Hanya gesekan di kaki jelas tidak bisa meredakan gatal itu. Kini, celana dalam yang menutupi area intim milikku sudah basah kuyup, sampai hampir menetes.

Aku melepas celana dalam, saat bagian intim milikku terpapar udara, rasa dingin membuatku mendesah dan jatuh lemas di tempat.

Begitu vibrator mini yang aku bawa ke mana pun menyentuh area intim milikku, aku tidak bisa menahan diri lagi dan mengeluarkan suara lenguhan yang nyaman. Untung ada alat ini, kalau tidak, serangan gatal itu pasti akan membuatku sampai lemas tak berdaya.

Benda yang terjebak di lubang itu bergetar dengan pasti, membawa kenikmatan yang memuncak hingga membuatku gemetar dan hampir pingsan. Tapi ini hanya mengatasi gejala, bukan penyebabnya.

Dokter pernah mengatakan, saat kambuh tiba-tiba, jika tidak melakukan dengan pria secara langsung, aku akan terus merasa cemas hingga kehilangan kendali sepenuhnya.

Tanpa sadar, sambil terengah-engah, aku mengirim pesan pada suamiku untuk meminta bantuan. Namun tak ada balasan darinya. Tiba-tiba perkataan suamiku pagi tadi terlintas kembali di kepalaku, “Jalang, kalau kamu kambuh lagi, cari orang lain saja! Aku sudah kering, tidak bisa mengisi kelaminmu!”

Suamiku itu benar-benar mau mengabaikanku?!

Aku ingin menangis, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Seluruh perhatianku tertuju pada satu hal, bagaimana caranya melewati saat-saat seperti ini tanpa benar-benar menyerah dengan akal sehat?

“Apa yang harus kulakukan?”

Jika tidak ada pria yang membantuku meredakan kondisi ini, aku benar-benar bisa celaka!

Ketegangan membuat tubuhku semakin kaku. Gerakan kecil dari benda yang terjebak di lubang belakangku menyentuh titik paling sensitif, memicu reaksi mendadak yang membuatku tersentak. Dalam sekejap, aku mencapai klimaks, cairan kenikmatan menyembur keluar bersamaan dengan vibrator tadi.

Aku terengah-engah,

Aku ambruk ke kamar mandi, terengah-engah. Sensasi kenikmatan yang tersisa belum hilang ketika kekosongan di bagian bawahku menyusul, terasa lebih panas dari sebelumnya.

Dengan pandangan kabur, aku tanpa sadar mendongak ke arah pintu. Entah karena pikiranku terlalu peka, atau karena rasa takut yang berlebihan, bayangan gelap tampak menutupi cahaya di balik pintu kamar mandi. Bentuknya samar, seperti ada seseorang berdiri terlalu dekat.

'Jangan-jangan, Surya mengintip aku?'

Pikiran aneh itu muncul begitu saja, membuat gejolak di tubuhku justru semakin menjadi. Membayangkan seorang pria yang kuat dan asing mungkin menyadari keadaanku sekarang, membuat gelombang hawa nafsu semakin melonjak. Seolah-olah aku merasakan pandangannya menyusuri tubuhku yang basah.

Sekarang aku hampir menangis, merasakan lubangku menjadi semakin gatal.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 7

    Seluruh sel di tubuhku seakan-akan dengan gila menyampaikan satu-satunya pesan ke otakku, yaitu, “Aku mau!”Surya membuka ikat pinggangnya, berdiri tidak jauh dariku, kemudian memanggilku seperti sedang mengerjai seekor anjing. “Merangkak ke sini sambil berlutut, memohonlah padaku!”Aku melakukannya tanpa ragu sedikit pun, menengadah dengan tak sabar, pandanganku kabur dan linglung.“Tolong … tolong bantu aku .…” rintihku.Entah sudah berapa lama berlalu, langit di luar jendela perlahan menggelap, dan dupa yang menyala itu pun akhirnya habis terbakar. Kepalaku berangsur-angsur kembali jernih. Saat kesadaranku pulih dan akal sehat kembali, aku benar-benar ingin menampar diriku sendiri.Yang kemarin sudah melampaui batas, itu saja seharusnya cukup. Kali ini, suamiku bahkan berjaga di luar pintu, tapi aku lagi-lagi ….“Kali ini performamu lumayan, aku puas. Ingat baik-baik, mulai sekarang kapan pun kupanggil, kamu harus datang. Mengerti?”Surya dengan santai membakar rokok, lalu menyalaka

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 6

    Sebenarnya, setelah kejadian dengan Surya tadi, aku sama sekali tidak berminat. Tapi aku juga tidak ingin suamiku curiga. Aku pun tidak punya pilihan lain selain berpura-pura senang dan membalas ciuman suamiku.Saat melihat suamiku memperlihatkan kejantanan miliknya yang sudah begitu familier dan kemudian mendekat kepadaku, di dalam hatiku, alih-alih muncul gairah, malah terselip rasa enggan yang sulit kujelaskan.Tak bisa dipungkiri. Setelah melihat yang lebih baik, dan merasakan perbedaan itu, wajar jika muncul perbandingan di dalam hati. Dulu, ketika hanya ada suamiku seorang, aku tidak pernah merasa ada yang janggal. Namun kini, jika dibandingkan dengan Surya, rasanya seperti langit dan bumi.Aku memejamkan mata, tanpa sadar bayangan kebersamaan aku dengan Surya hari ini kembali muncul di benakku. Sedikit demi sedikit, barulah tubuhku merespons. Tapi bahkan sebelum apa pun benar-benar terjadi, suamiku sudah selesai.Aku melirik waktu di ponsel, meski sudah minum obat, baru sekitar

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 5

    Kalau memang tidak menaruh curiga, pertanyaan seperti itu tak mungkin dilontarkan. Surya pun tampak jelas ikut menegang, meski senyum masih dipaksakan di wajahnya.“Tidak ada, kok. Istrimu mengajar dengan sangat baik.”Suamiku mengangguk. Setelah melirikku sekilas, ia kembali bertanya, “Waktu dia tadi ke kamar mandi, kamu dengar sesuatu tidak?”Surya mengatupkan bibir, refleks melirik ke arahku. Melihatku yang gelisah, entah apa yang terlintas di benaknya, ia justru berkata jujur, “Eh … sepertinya iya, memang sempat dengar. Seperti ada suara dengungan alat listrik.”Suamiku menghela napas panjang, kemudian berkata, “Ah, ini benar-benar aib keluarga. Ini mungkin bakal membuatmu tertawa.”“Istriku ini, dia kena penyakit kecanduan seksual, dia selalu butuh laki-laki.”Hal paling pribadi seperti itu justru dikatakan terang-terangan oleh suamiku!Aku panik, wajah dan tubuhku panas seperti terbakar. Sekalipun Surya tadi sempat berhubungan intim denganku, aku tetap tak ingin hal memalukan ini

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 4

    Dia ini menganggap aku sebagai apa? Perempuan bayaran?Penghinaan yang begitu terang-terangan membuat wajahku pucat, seluruh tubuh gemetar. Aku hendak membantahnya, ketika ponselku tiba-tiba berdering, itu pesan dari suamiku.[Istriku, kamu kambuh lagi? Cepat kirim lokasimu, aku ke sana sekarang.][Tadi aku rapat proyek, ponselku aku setel mode jangan ganggu, jadi tidak lihat pesanmu.]Ternyata suamiku bukan sengaja tak membantuku, dia benar-benar tidak melihat pesan itu. Memikirkan apa yang baru saja kulakukan dengan pria yang bahkan baru sekali kutemui, penyesalan dan rasa bersalah langsung menyesakkan dadaku, bercampur dengan rasa terhina dan sedih.“Suamiku, andai saja kamu menghubungiku lebih cepat, aku tak akan mengkhianati kamu seperti ini,” bisikku.Aku mengusap air mata di wajah, melotot tajam ke arah Surya, lalu keluar tanpa menoleh lagi. Tak lama kemudian, suamiku datang tergopoh-gopoh. Melihatku tampak normal, dia justru tertegun.“Istriku, bukankah kamu bilang sedang kambu

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 3

    Aku berusaha terus mengangkat pantatku, sambil mengikuti ritme gerakan Surya. Setiap hentakan tubuhnya semakin bertambah kuat. Ini kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, seperti membawa jiwaku kembali ke tubuh. Sama sekali berbeda dengan pengalaman bersama suamiku. Dan saat ini aku merasa benar-benar menjadi seorang wanita.“Ahh ….”Wajahku memerah, tanpa bisa menahan diri, suara itu pun lolos dari bibirku. Di seberang sana, Citra yang matanya masih tertutup mendadak terdiam kaku, lalu mengangkat kepala dengan bingung.“Ibu Guru, kamu, kamu kenapa?”“Tidak … Ibu tidak apa-apa ….”Aku terengah-engah menarik napas besar-besar, berusaha sekuat tenaga menjaga suaraku tetap terdengar normal, supaya Citra tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Namun kekuatan Surya memang terlalu besar. Mejaku bergoyang semakin keras, bahkan sekarang Citra mulai menyadari ada yang salah.“Ibu Guru, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya Citra sambil melepas penutup matanya.Aku berseru kaget

  • Hasrat Terlarang Seorang Tutor   Bab 2

    Aku tak bisa berlama-lama. Jadi meski tubuhku masih terasa lemah, aku tetap membereskan diri secepat mungkin, lalu membuka pintu dan keluar.Di depan pintu, Surya berdiri, menatapku dari atas ke bawah. “Bu Lisa tidak apa-apa? Wajah Anda kelihatan sangat merah.”Ekspresinya tampak serius, sehingga aku tak bisa memastikan apakah ia menyimpan maksud lain atau tidak. Namun sorot matanya yang panas membuatku kembali bergetar.Aku menunduk, menghindari pandangannya, lalu memaksakan senyum sopan. “Tidak apa-apa, cuma sedikit gerah.”“Kalau begitu, saya bantu gantungkan jaketnya, ya. Sini.”Menghadapi tawarannya, aku tak enak menolak dan menurut saja. Hanya saja, aku lupa satu hal penting. Tadi pagi aku pergi terlalu terburu-buru. Aku belum sempat memakai bra.Begitu jaket dilepas, langsung terpampang buah dada ukuran 36E milikku, seakan hampir meledak. Akibat gerakan melepas jaket, dadaku bergetar, kemeja putih yang aku kenakan sama sekali tidak bisa menutupi warna kulit asliku yang menggoda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status