Setelah Rigecherta siuman, Tivane tak henti hentinya tersenyum cerah dan mengoceh sambil berbaring bersandar pada dada Rigecherta. Rigecherta dengan penuh sayang membelai rambut Tivane dan tetap membiarkan wanita itu berbicara karena ia juga merindukan ocehan Tivane. Rigecherta hanya akan menimpali sesekali dan mengangguk sambil menciumi ubun-ubun Tivane. " Sumpah ya, aku beneran kesel banget tau nggak. Mana kamu kebantingnya di depan mata aku lagi, gimana aku nggak syok coba, refleks lari lah, eh.. malah ikutan pingsan karna pendarahan." Oceh Tivane dengan tangan tetap memeluk Rigecherta dengan posessive. " Yang penting sekarang kita sama-sama sehat, sama-sama masih bisa sender-senderan." Ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk kecil. " Bener. Serius deh, baru dua hari nggak ketemu sama kamu rasanya udah kangen banget. Jangan pernah tinggalin aku ya.." ucap Tivane mendongak menatap wajah Rigecherta. " Nggak bakal pernah, janji. Janji seumur hidup" ucap Rigeche
Baca selengkapnya