Clara merasakannya pagi itu di lobi kantor. Tidak ada serangan berita baru, tidak ada judul sensasional, maupun tuduhan skandal. Justru kesunyian itulah yang memberitahu: sesuatu yang fundamental telah berubah. Musuh tak lagi menghancurkannya; mereka membiarkannya terisolasi dalam rahasia.Ruang rapat lantai sepuluh terasa lebih dingin. Bukan karena pendingin udara, melainkan jarak tak kasatmata di meja panjang itu. Tatapan yang biasanya mendukung kini menghindar, terpaku pada gawai. Senyum profesional yang dilemparkan padanya terasa kaku, seperti topeng yang dipaksakan.“Kita mulai saja,” kata Clara, suaranya berusaha tetap stabil dan berwibawa.Presentasi yang ia bawakan berjalan lancar. Datanya solid, argumennya rapi, hampir tidak ada celah untuk didebat. Namun saat ia selesai berbicara, keheningan yang menyusul terasa terlalu panjang, terlalu menekan.Seseorang dari divisi kepatuhan akhirnya angkat bicara—nadanya netral, namun pemilihan katanya terlalu hati-hati untuk dianggap reme
Read more