Clara terjaga hingga pukul dua pagi, menatap langit-langit kamar yang terasa hampa. Di laci meja rias, alat tes kehamilan itu tersimpan dalam balutan sutra, upaya sia-sia untuk menyembunyikan kenyataan yang enggan ia hadapi.Setiap kali memejamkan mata, dua garis merah itu berpendar layaknya sinyal bahaya. Di tengah sunyinya malam Jakarta, Clara melangkah lunglai menuju jendela, membiarkan dingin lantai marmer merambat ke tubuhnya. Secara naluriah, tangannya menyentuh perut yang masih rata, tempat sebuah nyawa kini bersemi, buah dari malam tanpa perasaan demi sebuah klausul kontrak."Kau tidak seharusnya ada di sini," bisik Clara lirih, namun jemarinya justru mendekap perutnya lebih erat.Ia tahu, jika Adrian tahu sekarang, tidak akan ada binar bahagia. Adrian akan menganggap bayi ini sebagai "kesalahan teknis" atau variabel cacat yang mengancam stabilitas kekuasaannya. Kehamilan ini tidak pernah ada dalam rencana bisnis mereka yang rapi.Hari-hari berikutnya terasa menyiksa bagi Clara
Read more