Pukul 16.05.Layar laptop Clara telah menghitam, aksesnya diputus secara paksa dari pusat data. Di belakangnya, dua petugas keamanan berdiri kaku, sementara Sang Arsitek menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara amarah yang tertahan dan kekecewaan yang mendalam.“Kamu baru saja menghancurkan segalanya, Clara,” suara Sang Arsitek terdengar seperti retakan es di musim dingin. “Bukan hanya kariermu, tapi stabilitas yang kita bangun selama puluhan tahun.”Clara berdiri perlahan, merapikan tasnya dengan tangan yang tidak lagi gemetar. “Stabilitas yang dibangun di atas kebohongan hanyalah sebuah bom waktu, Pak. Saya hanya mempercepat detonasi agar reruntuhannya tidak menimbun lebih banyak orang.”Ia berjalan keluar melewati para petugas tanpa menunggu perintah. Di lorong-lorong kantor, suasana berubah drastis. Bunyi denting notifikasi email terdengar bersahutan dari setiap kubikel. Orang-orang berdiri, menatap layar dengan wajah pucat, lalu saling berbisik. Ada kehenin
Read more