Jari telunjuk Bibi Janeta perlahan terangkat. Gerakannya begitu lambat, ujung jarinya bergetar halus, berusaha menunjuk sesuatu—atau seseorang. “Dia…” suaranya keluar lirih, patah-patah, hampir hilang di antara napas yang berat. Clara menahan napas. Dadanya terasa sesak, seolah jantungnya ikut berhenti berdetak. “Siapa, Bi? Tolong…” desaknya, suaranya mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca, penuh harap sekaligus takut. Di sisi lain ranjang, Thomas berdiri kaku. Tatapannya tajam, terkunci pada tangan yang terangkat itu. Hans berdiri sedikit di belakang, diam, tak bersuara. Namun matanya ikut mengikuti arah jari itu, penuh perhatian. Jari Bibi Janeta naik sedikit lagi, lebih tinggi lagi. Seolah hendak menunjuk seseorang yang berada di ruangan itu. Bibirnya bergetar. Matanya terbuka lebih lebar, seakan mengumpulkan sisa tenaga yang ia miliki untuk mengucapkan satu nama. Dan tepat ketika kata itu hampir keluar— BIP! BIP! BIP! Alarm monitor tiba-tiba berbunyi nyaring, memecah ke
Read more