LOGIN"Aku beli dia tiga kali lipat." Ucapan itu menghantam Clara, seorang mahasiswi yatim piatu dengan hidup dipenuhi luka dan penghinaan, yang baru saja dijual oleh pamannya ke rumah bordir. Ia dibeli oleh Raymond Antonio, pria misterius dengan reputasi mengerikan dan kekuasaan absolut. Menjadi tawanan pria berbahaya ini membuat Clara hampir kehilangan akal. Namun, ada rasa ketertarikan yang perlahan tumbuh. Antara rasa takut, dendam masa lalu, dan ketertarikan yang tak seharusnya tumbuh, Clara harus bertahan di sisi pria paling berbahaya yang pernah ia kenal. Karena di dunia Raymond Antonio, keselamatan selalu punya harga—dan kebebasan bukan sesuatu yang bisa diminta dengan mudah.
View More“Lepaskan aku!”
Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan. “Barang baru, ya?” “Masih polos kelihatannya.” “Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.” Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual. “Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.” Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar. Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pada seorang pria—wajahnya tak asing. Di balik bayangan lampu redup, pria itu dengan aura paling gelap di ruangan itu. Setelan hitam, tatapan tajam, dan kehadiran yang membuat udara bergetar. Raymond Antonio. Di antara takut dan bingung ada satu perasaan yang lebih kuat—harapan. Ia ingat tatapan pria itu. Ingat caranya menatap seolah dunia bisa runtuh hanya dengan satu perintah. Tanpa berpikir panjang, Clara berlari ke arahnya. “Aku mohon…” suaranya pecah saat ia jatuh berlutut di samping kursi Raymond. Tangannya mencengkeram lengan pria itu kuat-kuat, seolah itu satu-satunya benda yang menahannya agar tak tenggelam. “Tolong aku…” Pria itu menunduk sedikit, menatap Clara dengan mata dingin yang sulit ditebak. Lalu ia berdiri. “Aku ambil dia,” katanya datar. “Tiga kali lipat dari harga tertinggi.” *** Di sebuah rumah sederhana di sudut gang sempit. “Makanan sudah siap!” Dengan rambut coklat panjang yang diikat seadanya, Clara sibuk mengatur meja makan. Tangannya cekatan melakukan ini dan itu. Setelah memasak untuk paman, bibi dan sepupu perempuannya, Clara bergegas memasukkan buku-buku kuliah ke dalam tas lusuhnya, sambil menyuapkan sarapan dengan terburu. Waktu sudah hampir habis; dia takut terlambat. “Clara, kamu sudah makan?” tanya paman Bobi. Clara tahu pamannya itu tidak benar-benar peduli, hanya basa-basi. “Sudah.” Clara menjawab dingin. “Aku mau berangkat sekarang.” “Dia sudah besar! Bisa urus diri sendiri. Tak usah diingatkan!” ujar bibi Elsa sinis. Clara hanya menyeringai pahit. Begitulah hidupnya setiap hari. Gadis berusia 20 tahun, manis, cerdas, dan cantik. Ia ditinggal kedua orang tuanya dibunuh orang tak dikenal 4 tahun yang lalu. Sejak itu ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya yang selalu menganggapnya sebagai benalu. “Sayang, bersikap baiklah padanya. Bagaimana pun dia adalah putri dari kakakku,” ujar paman Bobi. Ada sarkasme yang terdengar dalam ucapannya. “Tentu… makanya aku tampung dia di rumah ini. Kalau tidak, sudah kuusir sejak lama,” jawab bibi Elsa sambil tertawa. Paman Bobi dan Alda, sepupunya itu, ikut tertawa. Ketiganya tertawa seolah Clara adalah sebuah objek yang layak dihina. Diinjak. Dicemooh. Sementara Clara hanya menelan semuanya dalam diam. Tangannya terkepal erat. Matanya merah. Membara. Dengan cepat, tanpa menoleh ia pergi dari rumah, yang lebih pantas ia sebut neraka. Waktu berlalu tanpa ampun. Setelah selesai kuliah, Clara pergi menuju sebuah Cafe tempatnya bekerja paruh waktu. Clara bekerja paruh waktu demi membiayai hidupnya sendiri. Karena setelah orang tuanya meninggal, tak ada yang memperhatikan kebutuhannya. Seperti biasa, Clara bersikap ramah dan cekatan. Meski lelah, meski harus sesekali menyembunyikan air matanya, ia tak henti bekerja. Hingga pukul sembilan malam, cafe akhirnya tutup. “Clara, tolong kunci tokonya dan taruh di tempat biasa,” kata Ny. Eva, pemilik tempat itu. “Baik, Nyonya.” Setelah semuanya selesai, Clara keluar dan menaruh kunci di bawah pot besar yang terletak di samping pintu utama. Seperti malam-malam sebelumnya, ia berjalan cepat menuju halte. Jalanan malam itu sangat sepi. Terlalu sepi. Hingga— “Aaaa!” Clara terkejut, spontan menghampiri sumber suara teriakan itu. Di samping sebuah gedung, Ny. Eva diseret dua pria berbaju hitam dengan kasar. Mata Clara terbelalak melihatnya. Ia mencoba membaca situasi, namun kepalanya tidak mampu bekerja dengan benar. Clara perlahan memberanikan diri untuk mendekat, jantungnya berdegup tak beraturan. Sementara itu Clara dapat melihat bagaimana tubuh Ny. Eva gemetar hebat dengan moncong pistol dari anak buah berbaju hitam yang menempel di pelipisnya. “Lepaskan dia! Apa yang kalian lakukan?!” pekik Clara, ia mencoba berteriak tanpa rasa takut meski suaranya bergetar. Tindakannya sudah mendahului kepalanya. “Pergi!” bentak salah satu pria. “Ini bukan urusanmu!” “Clara, tolong aku!” rintih Ny. Eva. Clara perlahan semakin mendekat. Salah satu pria itu mendorong Clara dan hendak memukulnya. Namun… “Tunggu!” Suara itu dingin, serak, terukur. Seorang pria keluar dari mobil. Tinggi. Kekar. Berpakaian hitam. Alis tebal. Mata tajam seperti binatang buas. Rokok tergantung di bibirnya, asapnya mengepul pelan di bawah lampu jalan yang redup. “Tuan Raymond,” sahut salah satu anak buahnya.Clara tidak mampu mengalihkan pandangannya.Matanya seolah terkunci pada pemandangan itu—pada tubuh kecil yang tergantung tak berdaya di cabang pohon, pada darah yang masih menetes perlahan, jatuh setitik demi setitik ke tanah di bawahnya. Setiap tetes terasa seperti dentuman yang menggema di dalam dadanya.Napasnya mulai tersengal. Pendek. Tidak teratur.Dingin merayap pelan, dimulai dari ujung jari, menjalar ke lengan, hingga akhirnya mencengkeram dadanya erat.“Ray…” suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang terpecah oleh ketakutan.Tangannya refleks mencengkeram lengan pria di sampingnya.Raymond menoleh. Ia menatap Clara dan Noah bergantian. Tanpa berkata apa-apa, Raymond langsung bergerak. Tangannya terangkat, menarik Clara mendekat ke dalam pelukannya, memutar tubuh wanita itu sedikit agar pandangannya tertutup sepenuhnya dari pemandangan mengerikan di depan mereka.“Jangan lihat,” ucapnya pelan, namun tegas—seperti perintah yang tak boleh dibantah.Clara menggeleng l
Keesokan harinya, mansion yang biasanya tenang berubah total—seolah napasnya sendiri ikut dipercepat oleh kesibukan yang tak ada henti. Orang-orang berlalu-lalang tanpa jeda, membawa kotak-kotak besar berisi dekorasi mewah, kain-kain mahal, dan rangkaian bunga yang masih terbungkus rapi. Di sudut lain, tumpukan undangan dicetak dengan tinta emas yang berkilau, satu per satu memuat nama-nama penting dari berbagai kalangan. Pernikahan itu bukan sekadar acara, tapi akan menjadi perhelatan besar. Sangat besar. Di ruang tengah, beberapa desainer berdiri mengelilingi Clara yang tengah diukur untuk gaun pengantinnya. Kain putih menjuntai panjang di sekeliling tubuhnya, lembut menyentuh lantai marmer, mengalir seperti kabut tipis yang indah. Gaun itu terlihat begitu anggun—nyaris seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata. “Bagian ini kita jatuhkan sedikit… supaya siluetnya lebih elegan,” ujar salah satu desainer sambil merapikan lipatan kain. Clara hanya mengangguk pelan. Pikirannya masi
Hans menatap Clara beberapa detik. Sorot matanya sempat berubah—seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar peringatan biasa. Namun kemudian ia menggeleng pelan, menarik sudut bibirnya dalam senyum ringan. “Tidak… bukan apa-apa,” ujarnya santai. “Aku cuma… ya, kalian tahu sendiri. Dunia sekarang tidak aman. Jadi… hati-hati saja.” Clara mengangguk pelan. “Iya… terima kasih, Hans.” Hans tersenyum kecil, lalu mundur satu langkah. Tatapannya beralih sekilas ke Raymond—singkat, namun cukup tajam untuk menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya santai. “Jaga dia baik-baik,” ucap Hans. Raymond membalas tatapan itu tanpa ekspresi. “Itu tugasku.” Hening sesaat. Lalu Hans menepuk pelan bahu Clara. “Aku pergi dulu. Senang melihatmu baik-baik saja.” Clara mengangguk. “Aku juga… hati-hati ya.” Hans tersenyum, lalu berbalik. Langkahnya menjauh perlahan dari sana, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Clara menatap kepergian sahabat lamanya itu beber
“CLARA!” Semua kepala menoleh serempak—Raymond, Ken, bahkan Thomas yang sejak tadi berdiri diam. Seorang pria berlari mendekat. Langkahnya tergesa, napasnya sedikit terengah. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut seperti seseorang yang terburu-buru keluar tanpa sempat merapikan diri. Dan saat wajah itu semakin jelas—mata Clara langsung melebar. “Hans…?” suaranya nyaris tak percaya. Pria itu berhenti tepat di depan mereka, menatap Clara seolah memastikan ia tidak sedang berhalusinasi. “Clara…” ucapnya pelan. Satu detik hening. Lalu—Clara bergerak lebih dulu. Ia melangkah cepat, hampir berlari, dan tanpa ragu langsung memeluk pria itu. “Hans!” Pelukan itu erat. Hangat. Penuh rindu yang tak terucapkan. Galang membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. “Ini benar-benar kamu…” gumamnya, masih seperti tidak percaya. Beberapa langkah dari sana—Raymond membeku. Tatapannya seketika menajam. Aura di sekelilingnya langsung turun beberapa derajat. Ken yang berdiri di sampingnya melir
Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah. Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar. Meski begitu,
“Raymond—!” Suara Clara pecah. Tubuhnya langsung bergerak menuju pintu ruang perawatan, namun salah satu perawat buru-buru menahannya. “Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk dulu!” “Lepaskan saya!” Clara menangis. “Dia sendirian di dalam!” Di balik kaca kecil di pintu ruangan itu, Clara bisa mel
Clara menutup mulutnya, dan seketika air matanya kembali jatuh, dadanya terasa sesak—seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat hingga ia sulit bernapas. “Jadi… kondisinya berbahaya?” tanyanya dengan suara pecah. Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Kami masih berusaha me
“Raymond!”Jeritan Clara pecah bersamaan dengan tubuh pria itu yang ambruk ke lantai.Bruk!Suaranya terdengar begitu keras. Sebagian orang langsung berdiri dan menghampiri. Noah langsung mundur setengah langkah, matanya membulat penuh ketakutan melihat pria yang baru saja ia panggil papa jatuh se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore