Menjadi Tawanan Tuan Mafia

Menjadi Tawanan Tuan Mafia

last updateLast Updated : 2026-02-27
By:  Miss WangUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
6 ratings. 6 reviews
80Chapters
1.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Aku beli dia tiga kali lipat." Ucapan itu menghantam Clara, seorang mahasiswi yatim piatu dengan hidup dipenuhi luka dan penghinaan, yang baru saja dijual oleh pamannya ke rumah bordir. Ia dibeli oleh Raymond Antonio, pria misterius dengan reputasi mengerikan dan kekuasaan absolut. Menjadi tawanan pria berbahaya ini membuat Clara hampir kehilangan akal. Namun, ada rasa ketertarikan yang perlahan tumbuh. Antara rasa takut, dendam masa lalu, dan ketertarikan yang tak seharusnya tumbuh, Clara harus bertahan di sisi pria paling berbahaya yang pernah ia kenal. Karena di dunia Raymond Antonio, keselamatan selalu punya harga—dan kebebasan bukan sesuatu yang bisa diminta dengan mudah.

View More

Chapter 1

Gadis Yatim Piatu, Clara

“Lepaskan aku!”

Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai.

Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan.

“Barang baru, ya?”

“Masih polos kelihatannya.”

“Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.”

Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual.

“Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.”

Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar.

Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pada seorang pria—wajahnya tak asing.

Di balik bayangan lampu redup, pria itu dengan aura paling gelap di ruangan itu. Setelan hitam, tatapan tajam, dan kehadiran yang membuat udara bergetar.

Raymond Antonio.

Di antara takut dan bingung ada satu perasaan yang lebih kuat—harapan.

Ia ingat tatapan pria itu. Ingat caranya menatap seolah dunia bisa runtuh hanya dengan satu perintah.

Tanpa berpikir panjang, Clara berlari ke arahnya.

“Aku mohon…” suaranya pecah saat ia jatuh berlutut di samping kursi Raymond. Tangannya mencengkeram lengan pria itu kuat-kuat, seolah itu satu-satunya benda yang menahannya agar tak tenggelam. “Tolong aku…”

Pria itu menunduk sedikit, menatap Clara dengan mata dingin yang sulit ditebak.

Lalu ia berdiri.

“Aku ambil dia,” katanya datar. “Tiga kali lipat dari harga tertinggi.”

***

Di sebuah rumah sederhana di sudut gang sempit.

“Makanan sudah siap!”

Dengan rambut coklat panjang yang diikat seadanya, Clara sibuk mengatur meja makan. Tangannya cekatan melakukan ini dan itu.

Setelah memasak untuk paman, bibi dan sepupu perempuannya, Clara bergegas memasukkan buku-buku kuliah ke dalam tas lusuhnya, sambil menyuapkan sarapan dengan terburu. Waktu sudah hampir habis; dia takut terlambat.

“Clara, kamu sudah makan?” tanya paman Bobi. Clara tahu pamannya itu tidak benar-benar peduli, hanya basa-basi.

“Sudah.” Clara menjawab dingin. “Aku mau berangkat sekarang.”

“Dia sudah besar! Bisa urus diri sendiri. Tak usah diingatkan!” ujar bibi Elsa sinis.

Clara hanya menyeringai pahit.

Begitulah hidupnya setiap hari.

Gadis berusia 20 tahun, manis, cerdas, dan cantik. Ia ditinggal kedua orang tuanya dibunuh orang tak dikenal 4 tahun yang lalu. Sejak itu ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya yang selalu menganggapnya sebagai benalu.

“Sayang, bersikap baiklah padanya. Bagaimana pun dia adalah putri dari kakakku,” ujar paman Bobi. Ada sarkasme yang terdengar dalam ucapannya.

“Tentu… makanya aku tampung dia di rumah ini. Kalau tidak, sudah kuusir sejak lama,” jawab bibi Elsa sambil tertawa.

Paman Bobi dan Alda, sepupunya itu, ikut tertawa.

Ketiganya tertawa seolah Clara adalah sebuah objek yang layak dihina. Diinjak. Dicemooh.

Sementara Clara hanya menelan semuanya dalam diam. Tangannya terkepal erat. Matanya merah. Membara.

Dengan cepat, tanpa menoleh ia pergi dari rumah, yang lebih pantas ia sebut neraka.

Waktu berlalu tanpa ampun. Setelah selesai kuliah, Clara pergi menuju sebuah Cafe tempatnya bekerja paruh waktu.

Clara bekerja paruh waktu demi membiayai hidupnya sendiri. Karena setelah orang tuanya meninggal, tak ada yang memperhatikan kebutuhannya.

Seperti biasa, Clara bersikap ramah dan cekatan.

Meski lelah, meski harus sesekali menyembunyikan air matanya, ia tak henti bekerja.

Hingga pukul sembilan malam, cafe akhirnya tutup.

“Clara, tolong kunci tokonya dan taruh di tempat biasa,” kata Ny. Eva, pemilik tempat itu.

“Baik, Nyonya.”

Setelah semuanya selesai, Clara keluar dan menaruh kunci di bawah pot besar yang terletak di samping pintu utama.

Seperti malam-malam sebelumnya, ia berjalan cepat menuju halte.

Jalanan malam itu sangat sepi. Terlalu sepi.

Hingga—

“Aaaa!”

Clara terkejut, spontan menghampiri sumber suara teriakan itu.

Di samping sebuah gedung, Ny. Eva diseret dua pria berbaju hitam dengan kasar. Mata Clara terbelalak melihatnya. Ia mencoba membaca situasi, namun kepalanya tidak mampu bekerja dengan benar.

Clara perlahan memberanikan diri untuk mendekat, jantungnya berdegup tak beraturan. Sementara itu Clara dapat melihat bagaimana tubuh Ny. Eva gemetar hebat dengan moncong pistol dari anak buah berbaju hitam yang menempel di pelipisnya.

“Lepaskan dia! Apa yang kalian lakukan?!” pekik Clara, ia mencoba berteriak tanpa rasa takut meski suaranya bergetar. Tindakannya sudah mendahului kepalanya.

“Pergi!” bentak salah satu pria. “Ini bukan urusanmu!”

“Clara, tolong aku!” rintih Ny. Eva.

Clara perlahan semakin mendekat.

Salah satu pria itu mendorong Clara dan hendak memukulnya.

Namun…

“Tunggu!”

Suara itu dingin, serak, terukur.

Seorang pria keluar dari mobil.

Tinggi. Kekar. Berpakaian hitam. Alis tebal. Mata tajam seperti binatang buas. Rokok tergantung di bibirnya, asapnya mengepul pelan di bawah lampu jalan yang redup.

“Tuan Raymond,” sahut salah satu anak buahnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Anglii
Anglii
tiap harii nungguin update dari novel ini sksksk sukaa bngt ama novelnya alurnya bagus bikin penasaran habiss sehat selalu buat author nyaa...... ga sabar nunggu sampai end ......
2026-02-20 21:16:43
2
1
liyane22
liyane22
baru mulai, semoga cerita buku ini bagusss.... semangat author,,,
2026-01-23 21:22:01
1
1
mey mey
mey mey
lanjut dong, seru
2026-01-22 17:20:52
1
1
Febri Febriani
Febri Febriani
wah buku baru lagi,, pokoknya selalu seru karya kak miss wang......
2026-01-14 15:40:52
2
1
desisa
desisa
akhirnya buku baru launching juga...... sperti biasa karya kk gausah di ragukan lagi ... bagus poll...
2026-01-14 07:41:06
2
2
80 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status