"Dia psikopat.” Sunyi langsung memenuhi ruang kerja, tebal dan menekan, seolah dinding-dinding ikut menyerap makna dari kata itu. Tidak ada yang bergerak. Bahkan udara terasa berat untuk dihirup. Raymond tetap berdiri di depan meja, matanya terpaku pada foto-foto yang tersebar di permukaan kayu gelap itu. Gambar-gambar itu tidak menyisakan banyak ruang untuk tafsir—hanya darah, tubuh yang tak bernyawa, dan kekejaman yang terlalu nyata. Namun bukan itu yang membuatnya diam. Melainkan pola, kteraturan dalam kekacauan, sesuatu yang dilakukan dengan sengaja. Tatapannya menajam, seolah berusaha menembus gambar-gambar itu, mencari celah, petunjuk, atau sekadar kesalahan kecil yang bisa mengungkap pelaku di balik semuanya. Namun tidak ada. Hanya kematian yang sunyi. Raymond menarik napas pelan, lalu berdiri lebih tegak. “Cari dia.” Suaranya rendah. Dingin. Tegas. Ken langsung mengangguk tanpa ragu. “Ya, Tuan.” “Gunakan semua orang kita,” lanjut Raymond, kini menoleh sed
Read more