Langkah kaki Long Xuan kian berat, meninggalkan jejak-jejak merah di atas lantai batu yang dingin. Setiap embusan napasnya terasa laksana sayatan pisau di dalam dada, namun kilat amarah di sepasang netranya tak meredup sedikit pun. Di depannya, lorong bawah tanah itu mulai menyempit, membelok tajam ke arah kanan di mana gema langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar kian jelas."Kau tidak bisa lari lagi, Murong Guan!" suara Long Xuan bergaung, berat dan menindas, menghantam dinding-dinding batu.Di ujung lorong yang remang, sesosok pria tua dengan jubah sutra yang kini compang-camping dan kotor terengah-engah. Murong Guan menoleh dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak ngeri mendengarkan gema suara sang harimau Gunung Yu."J-Jangan mendekat! Menjauh dariku, Long Xuan!" teriak Murong Guan histeris. Tangannya yang gemetar meraba-raba dinding batu, mencari tuas mekanis berikutnya. "Kau harus mati di sini! Tempat ini adalah kuburanmu!"Klik.Satu lagi tuas berhasil ditarik oleh M
Read more