LOGINDi dalam ruang area Balai Kota, suasana mendadak sibuk—bukan karena kondisi darurat medis, melainkan karena sebuah rencana usil yang mendadak melintas di kepala Sang Ketua Gunung Yu. Long Xuan, yang dadanya baru saja selesai dibalut kain, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat seorang pasukan berlari masuk dan melapor bahwa Nyonya Besar sedang menuju ke sana dengan wajah pucat pasi. Sepasang mata Long Xuan yang tadinya redup karena letih, mendadak berkilat jenaka. "Fan Yi, Su Lang, kemari kalian," panggil Long Xuan setengah berbisik, menahan ringisan di dadanya. "Ada apa, Ketua? Apakah lukanya kembali robek?" tanya Fan Yi panik, langsung mendekat dengan wajah tegang. "Tidak. Istriku sedang menuju ke mari," ujar Long Xuan dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura mati. Kalian berdua, bersandiwara seolah-olah aku sudah tiada. Pasang wajah paling merana yang kalian bisa." Su Lang terbelalak, hampir saja menj
Di dalam Penjara bawah tanah Balaikota yang remang, udara terasa begitu pekat dan berat. Suara sorak-sorai kemenangan dari luar benteng terdengar lamat-lamat, berbanding terbalik dengan keheningan mencekam yang menyelimuti ruangan itu. Di sudut ruangan, sesosok wanita muda bersimpuh di atas tanah. Pakaian sutranya yang koyak terkena debu pertempuran tampak kontras dengan bayi mungil dalam dekapannya yang sedang tertidur lelap, tidak terusik oleh kekacauan dunia di sekitarnya.Dia adalah Murong Lian. Tubuhnya gemetar hebat saat mendengar langkah kaki lembut namun mantap mendekat dari arah pintu sel.Liya melangkah masuk. Anggun, tenang, namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Tatapan matanya yang tajam langsung tertuju pada Murong Lian yang kini meringkuk ketakutan bagai buruan yang terpojok."Kak ... Kakak..." suara Murong Lian bergetar, nyaris berupa bisikan yang tercekat di tenggorokan. Ia mengeratkan dekapan pada bayinya.Liya berdiri tegak di hadapan adik Murong Shi it
"Ketua Long, bertahanlah! Tabib! Cepat panggil tabib ke mari!" teriak Fan Yi panik. Tangannya dengan gemetar merobek kain pelapis jubahnya sendiri, mencoba menekan luka menganga di dada Long Xuan. "Jangan berteriak, Fan Yi ... telingaku tidak tuli," bisik Long Xuan parau. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang getir, namun cengkeramannya pada pundak Fan Yi mendadak mengencang. "Di mana ... di mana istriku? Di mana Nyonya?" Dengan sangat hati-hati, Fan Yi dan beberapa prajurit membawa tubuh kekar sang Ketua Bandit Gunung Yu untuk direbahkan pada sebuah bongkahan batu besar sisa reruntuhan dinding lorong. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat. Su Lang datang bersama beberapa prajurit inti, wajahnya tegang namun seketika mengembuskan napas lega saat melihat sosok yang terkapar di tanah beberapa meter dari sana. "Dia ... benar-benar sudah mati?" tanya Su Lang, memastikan dengan ujung tombaknya. Setelah melihat tidak ada lagi tanda-tanda k
Langkah kaki Long Xuan kian berat, meninggalkan jejak-jejak merah di atas lantai batu yang dingin. Setiap embusan napasnya terasa laksana sayatan pisau di dalam dada, namun kilat amarah di sepasang netranya tak meredup sedikit pun. Di depannya, lorong bawah tanah itu mulai menyempit, membelok tajam ke arah kanan di mana gema langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar kian jelas."Kau tidak bisa lari lagi, Murong Guan!" suara Long Xuan bergaung, berat dan menindas, menghantam dinding-dinding batu.Di ujung lorong yang remang, sesosok pria tua dengan jubah sutra yang kini compang-camping dan kotor terengah-engah. Murong Guan menoleh dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak ngeri mendengarkan gema suara sang harimau Gunung Yu."J-Jangan mendekat! Menjauh dariku, Long Xuan!" teriak Murong Guan histeris. Tangannya yang gemetar meraba-raba dinding batu, mencari tuas mekanis berikutnya. "Kau harus mati di sini! Tempat ini adalah kuburanmu!"Klik.Satu lagi tuas berhasil ditarik oleh M
Langkah kaki Long Xuan berdentang keras saat ia merangsek semakin dalam ke perut bumi. Lorong bawah tanah itu gelap gulita, hanya menyisakan pendar lampu minyak dinding yang bergoyang ditiup angin busuk dari kedalaman. Napas sang ketua bandit memburu, berbaur dengan rasa perih yang teramat sangat dari luka robek di dadanya yang kian basah oleh rembesan darah. Namun, bayangan Murong Guan yang melarikan diri di depannya membuat ia mengabaikan sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuhnya.Klik.Sebuah bunyi mekanis yang sangat halus terdengar di bawah sol sepatu botnya. Detik itu juga, insting tempur Long Xuan menjeritkan alarm bahaya. Tanpa berpikir panjang, ia melempar tubuhnya ke samping, berguling di atas lantai batu yang dingin.Sreeet! Sreeet! Sreeet!Puluhan anak panah berujung hitam pekat melesat dari balik dinding batu yang tersembunyi, menghantam dinding seberang hingga memercikkan bunga api. Jika Long Xuan terlambat sedetik saja, tubuhnya sudah menjelma menjadi bantalan an
Murong Guan gemetar hebat, sisa-sisa pengaruh alkohol dalam darahnya menguap seketika, digantikan oleh rasa takut yang mencengkeram dada. Di bawah intimidasi aura Long Xuan yang begitu menindas, ia merangkak mundur hingga punggungnya membentur pilar batu naga. "T-Tunggu, Long Xuan! Kita bisa bicara, kau masih menantuku!" racik Murong Guan, suaranya melengking panik sembari tangannya menggapai-gapai udara. "Beiyuan bisa kita bagi dua! Aku tidak akan mengusikmu lagi!" Long Xuan menghentikan langkahnya sejenak, menatap tiran yang kini mengiba di ujung sepatunya dengan pandangan muak. "Menantu? Kau menjadikan Shishi alat! Kau pikir kekuasaan ini adalah sepotong daging yang bisa kau tawar di pasar, Murong Guan? Di mana belas kasihanmu yang membuat rakyat Beiyuan menderita?!" "Mati kau, penghancur Beiyuan!" Tepat ketika Long Xuan mengangkat pedang besarnya untuk menghujam tubuh Murong Guan, sebuah bayangan melesat dari langit-langit aula. Tranggg! Benturan logam yang teramat keras m
Di tengah remang cahaya lilin yang kian meredup, Lu Chen berdiri mematung dengan kepala menunduk dalam. Suaranya terdengar datar namun tajam saat menyampaikan laporan yang dibawanya."Tuan Adipati," Lu Chen memulai, suaranya merendah. "Hamba menerima informasi dari seorang informan yang sangat te
Begitu selesai mengantarkan Long Yuan ke akademi Shin Yue, Liya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah tempat di mana statusnya sebagai istri yang terabaikan tidak lagi relevan. Dengan suara tegas, ia memerintahkan kusir untuk memacu kereta menuju pasar dist
Setelah pemeriksaan berakhir, meskipun kehangatan fajar telah menyentuh kulitnya, Liya merasa atmosfer di ruangan itu mulai menyempit. Baginya, Paviliun Phoenix adalah singgasana yang terlalu megah sekaligus mengintimidasi."Aku sudah jauh lebih baik, Xuan. Suhu tubuhku sudah normal sepenuhnya. Ta
Malam semakin larut di Paviliun Phoenix, namun atmosfer di dalamnya terasa pekat oleh ketegangan yang tak kasatmata. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan hanya dipecah oleh suara napas yang mulai beraturan dan gemeretak kayu bakar dari tungku di sudut ruangan. Long Xuan tetap terjaga. Meski







