Keheningan perlahan merayap, menggantikan deru napas memburu yang beberapa saat lalu memenuhi kamar temaram itu. Aroma keringat, keintiman, dan sisa-sisa hawa magis yang pekat menguar di udara. Di atas ranjang kayu yang masih berderit pelan, Liya bergelung lemas dalam dekapan Long Xuan. Tubuhnya yang semula kaku dan dipenuhi urat-urat legam kini terasa begitu lembut, hangat, dan sepenuhnya pasrah.Long Xuan membelai punggung polos istrinya dengan gerakan ritmis yang menenangkan. Telapak tangan kekarnya meraba kulit mulus Liya, memastikan tidak ada lagi sisa-sisa denyut kutukan purba yang bersembunyi di balik pori-porinya. Kelegaan yang luar biasa membuncah di dadanya, namun di saat yang sama, sebuah benang merah di dalam benaknya mulai terajut. Sebuah realitas baru yang mengejutkan baru saja terbentang di depan mata mereka."Kau benar-benar tidak apa-apa, Shishi?" bisik Xuan, suaranya serak. Ia mengecup pucuk kepala Liya yang masih basah oleh peluh.Liya melenguh pelan, menyurukkan
Read more