“Baiklah,” ujar Belinda pelan tapi tegas. “Sekarang sudah jam sebelas. Kalau malam ini kita berhasil menyelamatkan Fajar, aku akan penuhi permintaanmu. Kalau nggak, kamu bisa menagihnya kapan saja nanti. Aku nggak akan ingkar.”Mereka membicarakan sesuatu yang intim, tapi sikap Belinda dingin dan profesional, seperti tengah menyepakati kontrak bisnis, bukan tubuh dan harga dirinya sendiri.Arga memperhatikan perubahan itu. Dulu, setiap kali topik seperti ini muncul, Belinda akan tersipu dan menghindari tatapannya. Tapi kini tak ada lagi rasa malu. Hanya ada transaksi semata.Entah mengapa, itu justru membuat Arga kesal.Pria itu menarik dasinya dengan gerakan tak sabar, lalu melangkah melewati Belinda menuruni tangga. “Membosankan,” gu
Read more