Begitu panggilan tersambung, Elara mendengar suara tangisan bayi dari ujung telepon. Seketika, seluruh hatinya terasa tercekik.Dia sudah berusaha sekuat mungkin menahan diri agar tidak memikirkan anak itu, tetapi setiap kali malam tiba, dia tak mampu mengendalikan diri. Dia hanya bisa menatap foto anaknya sambil diam-diam menangis.Kini, saat mendengar dengan jelas tangisan anak itu, rasa nyeri tumpul berulang kali menghantam dadanya. Untuk sesaat, dia tidak bisa mendengar suara Deon."Elara!" Nada suara pria itu terdengar lebih berat.Elara baru tersadar, lalu buru-buru menenangkan napasnya dan berkata, "Untuk perjanjian cerai, secepatnya suruh orang antar ke sini. Aku nggak bisa keluar rumah, sebentar lagi libur Tahun Baru Imlek."Di ujung telepon, tangisan bayi terus terdengar, disertai suara pengasuh yang sedang menenangkan anak itu."Aku akan suruh orang kirim ke tempatmu.""Baik."Telepon ditutup. Elara meletakkan ponselnya. Air mata tak terbendung lagi. Diseka, jatuh lagi. Jatu
Read more