Elara tertawa pelan."Benarkah?"Deon tiba-tiba memiringkan tubuhnya mendekat. Satu tangannya bertumpu di sisi lain tubuh wanita itu. Bayangan dari tubuhnya yang tinggi langsung menyelimuti Elara sepenuhnya. Dengan jarak sedekat itu, aroma tubuh pria itu memenuhi ujung hidungnya.Namun saat tatapan mereka bertemu, tidak ada sedikit pun gejolak asmara di mata keduanya. Bibir tipis pria itu sedikit terbuka. Dengan suara rendah dan dalam, dia berkata, "Kalau begitu, mau coba?"Elara langsung mengulurkan tangan dan mendorongnya menjauh. Tubuh Deon sedikit terdorong ke belakang. Namun, dia tidak marah. Sebaliknya, dia tersenyum tipis."Kalau begitu bisa dicoba lain kali."Saat itu, seorang pengasuh turun dari lantai atas. "Elise sudah bangun."Elara langsung berdiri dan berjalan menuju lantai atas. Deon juga hendak ikut naik, tetapi ponselnya bergetar. Dia mengangkat ponsel dan melirik layar panggilan.Lalu dia menjawab, "Halo, Nenek."Dari seberang telepon terdengar suara Nami. "Deon, kamu
Leer más