Larissa tak kuasa menghela napas pelan. Kemudian, dia berbalik, menghampiri Elise, menggandeng tangannya, dan berkata dengan suara lembut, "Biarkan Mama tidur dulu. Kita turun untuk sarapan.""Ya."Pagi itu, Vidi datang ke rumah Keluarga Wiratama. Wajahnya tampak sangat kuyu. "Ayah, Tante, Elara di mana?"Larissa menyahut, "Masih istirahat. Belakangan ini kamu juga pasti sibuk sekali. Sebaiknya selesaikan dulu urusanmu. Elara masih butuh waktu untuk menenangkan diri.""Kalaupun sekarang dia bertemu denganmu, mungkin dia juga nggak akan bisa banyak bicara. Jadi, tunggu saja dulu."Vidi tentu tahu. Hanya saja, dia tidak bisa menahan keinginan untuk datang menjenguknya.William membujuknya, "Betul, Vidi. Pelan-pelan saja. Jangan terlalu buru-buru."Vidi mengiakan, lalu berbalik hendak pergi.Larissa bertanya, "Kamu belum sarapan, 'kan?"Langkah Vidi terhenti."Tante bikinkan mi buat kamu ya."Vidi refleks hendak menolak, tetapi William berkata, "Vidi, cepat bilang terima kasih ke tantemu.
Read more