Elara sedikit mendongakkan kepala dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Setelah itu, dia kembali duduk di sofa dan menatap Deon yang berwajah muram.Dengan tenang, dia berkata, "Deon, bisa nggak kamu bicara baik-baik? Aku nggak mau bertengkar denganmu."Mata gelap Deon menatapnya. "Jawab dulu pertanyaanku."Elara akhirnya sadar bahwa pria ini bukan hanya dominan dan semena-mena, tetapi juga keras kepala dan sama sekali tidak mau diajak berkompromi."Menikah lagi atau nggak adalah sesuatu yang baru akan aku pertimbangkan nanti.""Jadi, kamu mau menikah lagi?!" desak Deon.Elara menatapnya, suaranya ikut merendah, "Deon, kita sudah bercerai. Kalaupun nanti aku menikah lagi, itu juga hal yang wajar."Begitu kata-kata itu terlontar, Deon menyunggingkan senyum sinis."Kalau begitu, sepertinya aku juga harus mempertimbangkan untuk mencarikan Elise seseorang yang lebih cocok menjadi ibunya."Mendengar itu, pupil mata Elara seketika membesar.Deon berbalik dan berjalan menuju k
Ler mais