Jeong Min tiba-tiba berdiri dan mengecup bibir Min-ho. Cup. Ciuman itu singkat, ringan, tapi penuh keberanian yang gemetar. Jeong Min langsung mundur, wajahnya memerah hebat, matanya melebar seolah baru sadar apa yang baru saja dia lakukan. Min-ho terdiam, matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup keras. “Oppa... maaf,” bisik Jeong Min cepat, suaranya hampir hilang. “Aku... aku nggak tahu kenapa aku...” Min-ho tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Jeong Min dengan lembut, tangannya naik pelan menyentuh pipi wanita itu, ibu jarinya mengusap kulit yang panas dengan gerakan sangat ringan. “Jangan minta maaf,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku senang. Sangat senang. Tapi... kamu yakin? Kita nggak perlu buru-buru.” Jeong Min menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca. Tangannya mencengkeram ujung baju Min-ho, seolah takut pria itu pergi. “Gini aja...Satu kata ‘stop’ dari kamu, aku langsung berhenti. Kita pelan-pelan...oke?” Jeong Min mengangguk perlah
Read more