Home / Fantasi / Kutukan Putri Pulau Cinta / Penjaga Kesepian di Tengah Laut

Share

Kutukan Putri Pulau Cinta
Kutukan Putri Pulau Cinta
Author: Tutur K. S

Penjaga Kesepian di Tengah Laut

Author: Tutur K. S
last update Last Updated: 2026-01-16 20:28:08

BAB 1 - Penjaga Pulau Yang Kesepian

Malam di pulau Sakura itu selalu memiliki aroma yang sama: perpaduan antara uap laut yang asin dan wangi bunga night-blooming jasmine yang tumbuh subur di sekitar mansion. Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke samudera Hindia, Hanna berdiri mematung. Angin laut yang kencang mempermainkan rambut hitamnya yang panjang sepinggang, helai-helainya sesekali menyapu kulit bahunya yang seputih porselen.

Hanna menatap cakrawala dengan mata hijau tajamnya yang jernih—terlalu jernih untuk seseorang yang telah melihat dunia berubah selama ratusan tahun. Malam ini, dia mengenakan gaun sutra merah marun dengan potongan V-neck yang sangat rendah, hampir menyentuh ulu hatinya. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya yang sintal dengan sempurna, menonjolkan sepasang payudaranya yang penuh, yang naik-turun seiring helaan napasnya yang berat.

"Klien nomor 709 akan tiba dalam sepuluh menit, Nona," suara datar dari interkom di pergelangan tangannya memecah keheningan.

"Perjaka, usia tiga puluh tujuh tahun, CEO firma hukum di Seoul dan Jepang," lanjut suara itu. "Kriteria terpenuhi. Tidak ada catatan pernikahan ataupun penyakit."

Hanna tidak menjawab. Dia hanya menyentuh permukaan dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdetak dengan ritme yang lambat dan dingin. Sebuah kutukan. Sebuah keabadian yang melelahkan. Baginya, pria-pria sukses yang datang ke pulaunya hanyalah subjek eksperimen. Dia adalah guru bagi mereka, namun bagi dirinya sendiri, dia adalah seorang pemburu yang sedang mencari kunci untuk kematiannya sendiri.

Hanna berjalan memasuki hall besar dengan marmer putih bersih dan memantulkan sinar cahaya rembulan yang cantik. Ia memasuki sebuah ruangan di ujung koridor menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati hitam. Dengan sapuan jari, layar hologram tipis muncul dari permukaan meja, menampilkan data dari klien yang sesaat lagi akan menjejakkan kaki di kamar prakteknya.

Data Klien #709

Nama Alias: Min Ho

Usia: 37 tahun.

Status: Perjaka (Verified melalui tes medis pra-kedatangan).

Latar Belakang: CEO Firma Hukum spesialis korporasi di Seoul dan Jepang. Memiliki IQ 150, sangat dominan di ruang sidang, namun menderita anxiety (kecemasan) parah jika harus berhadapan dengan Wanita, apalagi sentuhan fisik.

Tujuan Order: "Praktek Perdana"

Catatan Khusus: Ia ingin lelah menahan diri. Ia ingin s*x dengan pacarnya dengannya sebelum mereka menikah. Pacarnya sepertinya ada kemungkinan akan selingkuh dengan pria lain. Ia butuh bimbingan teknis sekaligus mental agar tidak terlihat seperti pria "amatir" di malam pertama mereka berhubungan.

Hanna membaca catatan itu dengan tatapan datar. "Pria pintar tapi takut dengan wanita," gumamnya pelan. Suaranya terdengar sensual namun ada nada sinis di sana.

Bagi Hanna, kasus seperti Min-ho adalah makanan sehari-hari. Pria yang terlalu sibuk menaklukkan dunia hingga lupa cara menaklukkan insting dasarnya sendiri. Namun, Hanna tidak boleh meremehkan. Pria seperti ini biasanya memiliki ketegangan otot yang tinggi dan butuh pendekatan yang perlahan sebelum masuk ke menu utama.

"Siapkan minyak esensial ylang-ylang dan lavender," instruksi Hanna pada pelayan. "Dia butuh relaksasi otot sebelum aku ajari."

Hanna menutup layar hologramnya.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar utamanya yang luas. Ruangan itu adalah perpaduan antara kemewahan modern dengan sentuhan klasik Korea-Jepang. Lantai kayu gelap yang hangat kontras dengan dinding kaca besar yang menampakkan pemandangan laut yang sangat megah 180 derajat. Di tengah ruangan, sebuah ranjang king-size dengan sprei sutra hitam telah siap.

Hanna mengambil sebuah topeng renda hitam yang rumit dari atas meja riasnya. Sesuai SOP yang ia tetapkan, identitasnya adalah rahasia yang paling suci.

"Siapkan ruangan mawar," perintah Hanna dingin melalui interkom. "Pastikan matanya sudah tertutup sebelum dia melangkah melewati pintu gerbang dalam. Aku tidak ingin dia melihat apapun selain kegelapan sebelum aku menyentuhnya."

Hanna berjalan menuju cermin besar. Ia menatap bayangannya sendiri, seorang wanita yang terjebak dalam usia dua puluh lima tahun selamanya. Ya, umur dua puluh lima tahun sejak 300 tahun yang lalu.

Ia teringat kembali pada pria dari abad ke-18 yang pernah ia cintai. Pria itu menua di pelukannya, kulitnya keriput dan rambutnya memutih, sementara Hanna tetap tampak seperti gadis yang baru mekar. Pahit.

"Jangan pernah jatuh cinta lagi, Hanna," bisiknya pada bayangan itu. "Cinta bagi manusia adalah berkah, tapi bagimu, itu adalah racun yang akan membunuhmu berkali-kali tanpa pernah benar-benar mati."

Lampu di dermaga pribadi di bawah sana berkedip tiga kali. Sebuah kapal cepat mewah baru saja merapat. Klien malam ini telah tiba.

Hanna mengenakan topengnya, menyesuaikan letak gaunnya yang berani, dan menyemprotkan parfum beraroma cendana yang memabukkan ke leher dan belahan dadanya. Ia siap untuk "praktek" selanjutnya. Ia siap memberikan pelajaran tentang kenikmatan duniawi kepada pria yang haus bimbingan itu, sembari diam-diam berharap—dengan sisa-sisa harapan yang hampir punah—bahwa mungkin, pria kali ini adalah pemilik benih yang ia cari.

Meskipun dalam hati ia tahu, kemungkinan itu hampir nol.

"Oke. Mari kita bersenang-senang malam ini..."

Beberapa lama kemudian, pintu ganda kamarnya terbuka pelan. Di sana, seorang pria dengan mata tertutup kain sutra hitam dipandu masuk oleh asisten Hanna yang bertubuh kekar. Pria itu tampak kaku, bahunya tegang, dan napasnya pendek-pendek.

Hanna melangkah mendekat tanpa suara. Gaun sutranya berdesir lembut di lantai kayu. Ia berdiri tepat di depan Min-ho, begitu dekat hingga pria itu bisa mencium aroma cendana dan hangatnya kulit Hanna yang terbuka di bagian dada.

"Selamat datang di tempat di mana waktu kamu akan berhenti, Klien 709," bisik Hanna tepat di telinga pria itu. "Jangan takut. Di pulau ini, Kamu cuma akan merasakan kenikmatan. Di pulau ini hanya ada satu aturan: kau harus patuh padaku jika mau membuat wanita tergila-gila padamu."

Pria itu mengerang. “Siapa kamu?”

“Bisa dibilang aku trainer kamu di sini. Trainer yang akan kasih kamu petunjuk kenikmatan duniawi. Min Ho”

Tangan Hanna yang lembut namun dingin mulai menyentuh rahang pria itu, menuntunnya menuju ranjang dengan ujung jarinya.

"Kamu bilang kamu takut terlihat amatir kan? Tenang saja…Malam ini, aku akan jadikan kamu seorang ahli," ucap Hanna dengan nada mendesah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Putri Pulau Cinta   Kesepakatan Yang Menggoda Dengan Kenzo

    Di ruangan rahasia lantai bawah, kegelapan terasa lebih pekat setelah pintu tertutup. Cahaya lentera kecil di sudut ruangan cuma mampu menerangi sebagian kecil—bayangan naga emas di dinding batu hitam berkilau samar seperti mata yang mengawasi, aroma cendana dari dupa yang sudah padam masih menggantung di udara seperti napas lama yang enggan pergi. Hanna duduk di lantai tatami yang dingin, jubah sutra basah menempel di kulitnya, air masih menetes pelan dari ujung rambut hitamnya ke bahu, membentuk genangan kecil yang dingin di bawahnya. Napasnya tersengal, dada naik-turun cepat, mata hijau tajamnya berkaca-kaca tapi tatapannya sudah kembali tegas—panik tadi mulai digantikan oleh tekad yang dingin.Kenzo berdiri di ambang pintu, handuk putih melilit pinggang, kulitnya masih berkilau karena sisa air bathtub. Matanya tidak lepas dari Hanna, tatapannya campur antara kejutan, kekaguman, dan tekad yang tidak mau mundur.Hanna bangkit pelan, tangannya memegang jubah agar tidak terbuka lebih

  • Kutukan Putri Pulau Cinta   Kenzo, Tamu Yang Skeptis

    Di saku kemejanya, Kenzo meraba kartu akses hotel bintang lima yang sempat ia tempati sebelum dijemput. Di sana, ia sempat membaca ulang berkas-berkas digital tentang "Konsultan" ini. Website Pulau Cinta sendiri adalah mahakarya enkripsi. Sebagai ahli teknologi, Kenzo sempat mencoba meretas firewall-nya hanya karena iseng, namun ia selalu berakhir dengan kegagalan total. "Siapa Konsultan ini?" Gumam Kenzo.Di belahan dunia yang berbeda, tepatnya di dek kapal cepat yang membelah ombak laut dalam, Kenzo Tanaka sedang merutuki keputusannya sendiri. Angin laut yang dingin menerpa wajahnya, namun ia tetap berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada. Kemeja putihnya yang mahal sedikit terbuka di bagian kerah, menampakkan lehernya yang jenjang dan kokoh."Tuan Kenzo, kita sudah memasuki wilayah Khusus Pulau Cinta. Saya harus menjalankan prosedur," suara pria berseragam hitam di sampingnya terdengar tegas namun sopan.Kenzo menoleh, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipi

  • Kutukan Putri Pulau Cinta   Naga Yang Lahir Dari Kutukan

    Malam itu, setelah mantra dukun selesai diucapkan, gubuk di hutan gelap itu terasa lebih dingin. Asap dupa hitam masih melayang tebal, membentuk lingkaran aneh di sekitar Empress Miko yang berlutut. Wanita tua bermata buta itu—dukun yang dikenal sebagai Yami no Majo, Penyihir Kegelapan—tersenyum tipis, giginya kuning dan tajam seperti taring ular."Kutukan sudah tertanam, Ratu," katanya dengan suara serak yang seperti gesekan daun kering. "Selir itu takkan menua lagi. Jantungnya akan membeku, tak berdegup kencang untuk siapa pun selain pemilik Benih Suci. Dan tato naga di pahanya… itu akan jadi pengingat abadi. Naga itu akan bangun hanya saat kutukan retak—bersinar emas terang, panas seperti api neraka. Tapi sebelum itu, ia hanya akan jadi tanda kutukan yang semakin dalam."Miko menatap dukun dengan mata penuh kepuasan bercampur ketakutan. "Bagaimana caranya agar Kaisar menolaknya? Aku ingin dia diusir dari istana, diasingkan seperti sampah."Dukun tertawa pelan. "Naga itu akan memban

  • Kutukan Putri Pulau Cinta   Asal Mula Kutukan Hanna (21+)

    Hanna berdiri di depan cermin besar, jari-jarinya perlahan menyusuri garis lehernya sendiri, menelusuri tetesan air yang masih menempel dari mandi tadi. Setiap sentuhan kecil itu membangkitkan ingatan yang sudah lama dia kubur, ingatan tentang tubuh yang pernah membara, tentang malam-malam di mana hasrat adalah satu-satunya bahasa yang dia pahami. Napasnya menjadi lebih berat, dadanya naik-turun lebih cepat, seolah tubuh abadinya masih ingat rasa panas yang dulu.Dia menutup mata, dan dunia sekarang lenyap. Yang tersisa hanyalah malam tiga abad lalu, di kamar pribadi Kaisar Hiroshi.Kaisar Hiroshi menemukannya saat Hanna tersasar di hutan. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Kaisar Hiroshi langsung membawanya ke istana dan menjadikannya selir.Sejak saat itu, ruangan Hanna itu seperti sarang kenikmatan bagi mereka berdua. Dinding kayu hitam berkilau di bawah cahaya puluhan lilin merah yang meleleh perlahan, meneteskan lilin panas ke tatami.Aroma dupa cendana tebal dan manis me

  • Kutukan Putri Pulau Cinta   Testimoni Min Ho dan Rencana Menaklukan Aiko

    Hanna berdiri di balkon lantai dua mansion, angin malam dari lautan yang berada di tengah-tengah antara Jepang dan korea membelai rambut hitam panjangnya yang masih sedikit lembab dari keringat sesi dengan Min-ho. Gaun sutra merah marunnya sudah rapi lagi, tapi aroma cendana dan ylang-ylang masih nempel di kulitnya seperti bisikan yang enggan hilang.Dia tarik napas dalam, tangan kanannya otomatis menyentuh dada—tepat di atas jantung yang selama tiga abad ini cuma berdetak pelan, mekanis, kayak jam tua yang udah lupa cara berdegup kencang.Nggak ada reaksi lebih dari tubuh Hanna dengan kegiatannya dengan Min Ho.Hanna tutup mata, ingat lagi momen klimaks tadi. Saat Min-ho lepas di dalamnya, dia nunggu—seperti ratusan kali sebelumnya—tanda yang dia cari selama berabad-abad.Jantungnya tetap diam. Nggak ada debaran liar mendadak, nggak ada rasa hangat yang nyebar dari dada ke seluruh tubuh kayak api yang tiba-tiba hidup lagi. Dengan Min Ho, yang ia rasakan cuma detak biasa, dingin, abad

  • Kutukan Putri Pulau Cinta   Resep & Tips Untuk Min Ho (21+)

    Min Ho merasa sudah ahli dalam sekejap. Ia menggenjot Hanna dengan penuh nafsu. Min-ho mengerang panjang, badannya melengkung di bawah Hanna kayak orang yang akhirnya nyerah total. Udara di kamar udah berat banget, campur bau minyak ylang-ylang yang manis, keringat mereka, dan sedikit aroma cendana yang nempel di kulit Hanna. Cahaya bulan nyelinap lewat dinding kaca, bikin sprei sutra hitam yang udah acak-acakan kelihatan makin menggoda. Hanna masih di atas, tatapannya nyorot ke wajah Min-ho yang tertutup kain sutra hitam. Bibir pria itu setengah terbuka, napasnya ngos-ngosan, tangannya nyengkram pinggul Hanna kayak takut kehilangan pegangan. “Ya… aku siap,” gumam Min-ho, suaranya serak dan penuh gairah. “Ajarin aku… bikin aku bisa bikin dia gila nanti.” Hanna nyengir kecil, meski Min-ho nggak bisa liat. Tangan kanannya masih main-main di tonjolan keras di celana dalam pria itu, digosok pelan-pelan lewat kain tipis yang udah basah. “Bagus, sayang,” bisiknya sambil mendekat ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status