LOGINHanna merasakan getar halus di ujung jarinya saat menyentuh rahang Min-ho. Pria itu tegang seperti busur panah yang siap meledak, otot-ototnya kaku di bawah kulit yang hangat. Aroma aftershave-nya—campuran kayu cedar dan citrus segar—berpadu dengan parfum cendana miliknya sendiri, menciptakan kabut sensoris yang memabukkan di ruangan yang diterangi cahaya rembulan redup.
Hanna tersenyum tipis di balik topeng rendanya. "Duduk di tepi ranjang," perintahnya dengan suara yang lembut namun tegas, seperti hembusan angin malam. Tangan kirinya memandu bahu Min-ho, merasakan bagaimana pria itu menurut tanpa perlawanan. "Bagus sekali. Sekarang, tarik nafas dalam-dalam sama-sama ya... Tarik napas melalui hidung... tahan... dan hembuskan pelan lewat mulut. Biar aku yang hitung ya sayang." Min-ho menurut, napasnya yang pendek-pendek mulai melambat. Imajinasinya liar membayangkan siapa pemilik suara indah itu. Tapi Min Ho berusaha fokus. Hanna meletakkan telapak tangannya di dada pria itu, tepat di atas jantung yang berdegup kencang. "Coba rasain ini," bisiknya tepat di telinga Min-ho, bibirnya hampir menyentuh cuping telinga pria itu. "Panas tubuh ini akan mengalir ke dalam dada ini. Biarkan rasa tegang itu mencair. Kamu sekarang bukan CEO yang mengendalikan semuanya. Di sini... kamu harus nurut..." "O-oke," jawab Min Ho. "Tapi apa aku boleh buka penutup mata ini? Aku sedikit gak nyaman." "Sorry, tapi enggak. Kamu harus menutup mana untuk sama-sama menjaga rahasia masing-masing. Selain itu, kamu enggak boleh liat wajah aku karena untuk menghindari memori kita ini. Kalau kamu lihat wajah aku, kamu akan terngiang-ngiang wajah aku saat kamu bermesraan dengan pasangan yang sebenarnya nanti. Jadi lebih baik kamu gak tahu siapa aku. Cuma rasain aja enaknya. Rasanya...sensasinya...ingatlah baik-baik..." "Oh...okey...masuk akal..." “Nah, sebelum kita mulai praktek, aku mau tanya satu hal dulu,” katanya dengan nada yang lebih serius, tapi tetap lembut. “Calon istri atau pasangan kamu itu... seperti apa sifatnya? Apa dia pemalu? atau justru agresif? atau naif? Atau malah tipe yang kelihatannya kalem tapi sebenarnya liar kalau sudah nyaman?" "Hmm...," Min Ho mencoba mengingat-ingat. Dia dan pacarnya Jeong Min. Meski sudah berpacaran hampir lima tahun, mereka memang tidak pernah tidur bersama. Mereka tipe hubungan yang konvensional alias malu untuk memulai. Di satu sisi Jeong Min sebenarnya menunggu Min Ho, di sisi lain Min Ho mencoba menghargai Jeong Min. Mereka berdua terlalu takut. Tangan Min Ho selalu gemetar setiap kali mencoba menyentuh Jeong Min lebih jauh dari sekedar pelukan. "Coba aku ingat-ingat..." "Ceritain ke aku, biar aku bisa kasih treatment yang pas. Soalnya cara membuka wanita pemalu itu beda sama cara membuka wanita yang sudah berpengalaman.” Min-ho menelan ludah. Wajahnya memerah lagi, tapi kali ini karena malu. “Dia... pemalu dan sangat menghargai aku,” jawabnya pelan, hampir seperti bisik. “Sangat pemalu. Bahkan pas kita ciuman aja dia masih suka nutup mata dan gemetar. Dia bilang dia gak pernah... gak pernah sampai tahap lebih jauh sama siapa pun sebelumnya. Aku juga. Aku takut kalau aku terlalu agresif, dia malah takut atau malu. Tapi aku juga takut kalau aku terlalu pelan, dia malah mikir aku gak tertarik. Kami baru bertunangan minggu lalu. Aku...aku ingin lebih jauh lagi. Aku ingin lebih berani. Jadi, aku ingin bikin dia terkesan dan dapet pengalaman terbaik.” "I see...," Hanna mengangguk pelan, matanya penuh pengertian. Dia meletakkan tangan di paha Min ho—bukan di area sensitif, hanya di atas lutut—sebagai isyarat bahwa dia mendengarkan sungguh-sungguh. Min Ho menelan ludahnya. “Wanita pemalu kaya calon istri kamu butuh pendekatan yang sangat berbeda. Kalau kamu langsung agresif, dia bisa langsung menutup diri. Kalau kamu terlalu pelan, dia bisa mikir kamu gak nafsu. Jadi kuncinya itu... lambat, kasih perhatian, buat dia ngerasa kamu bisa dipercaya dan tanggung jawab." "Hmm...oke..." Min Ho mengangguk. "Tapi...""Kenapa?"
"Tangan ini...tangan aku selalu gemetaran...," ucap Min Ho sambil menunjukkan kedua tangannya.
"Itu karena belum terbiasa dan tegang. Tenang, aku akan ajarin step by step nya, sambil kita praktek pelan-pelan. Kamu cukup ikutin aja apa yang aku lakukan ke kamu, lalu ingat dan lakukan. Deal?”
"Deal," Min ho mengangguk cepat, antara gugup dan semangat. "Wanita pemalu seperti calon istri kamu itu butuh pendekatan khusus, Min-ho. Mereka sering merasa rentan, insecure, mungkin dia takut kalau dia kasih keperawanannya ke kamu, kamu akan pergi." "Sepertinya begitu...dia sempat hampir dilecehkan bosnya. Makanya dia takut...", ucap Min Ho ketika ia mengingat-ingat situasi yang diceritakan Jeong Min kepadanya saat dia lembur sendirian di kantornya yang lama. Mantan Bos-nya hampir memperkosanya kalau Jeong Min tidak datang tepat waktu. "I see...jadi kuncinya itu bikin dia merasa aman, dihargai, dan tidak ditekan. Jangan langsung agresif atau vulgar. Itu bisa bikin dia menutup diri total. Mulai dari hal-hal kecil yang bikin dia nyaman, seperti pelukan atau ciuman ringan dulu. Komunikasi itu senjata utama: selalu tanya atau izin 'boleh gak?' atau 'nyaman gak?' setiap langkah. Ini bukan cuma buat dia, tapi juga buat kamu—biar kamu tahu batasnya.” "Oke...masuk akal...," Min-ho mengangguk. Ia mencoba fokus mendengarkan tapi masih gugup. Hanna melanjutkan dengan suara yang lambat dan tenang, seperti sedang membimbing meditasi. "Aku rasa aku juga butuh waktu untuk membiasakan diri supaya tidak terlalu tegang." "Untuk pemula, kamu bisa mulai dari mengelus rambut lalu ke belakang telinga, lanjut ke leher, bahu, lalu ke lengan, punggung, pinggang, terus ke paha luar, paha dalam, lanjut ke bagian dada dari luar baju, lalu kalau dia merasa nyaman bisa pelan-pelan puting dari luar baju, dan skin to skin kalau tidak ada masalah." Min Ho mulai membayangkan tubuh kekasihnya Jeong Min. "Oke. Aku harus mengingat-ingat itu." "Aku akan berikan catatan resep supaya kamu tidak lupa nanti. Tenang saja," Hanna tersenyum. "Syukurlah..." " Oke. Step pertama: bangun rasa aman sebelum apa pun. Jangan langsung ke ranjang. Ajak dia ngobrol dulu seperti aku dan kamu ini di tempat yang netral, seperti sofa, meja makan, tempat tidur, atau di mana saja. Setelah itu, pegang tangannya pelan, gosok punggung tangannya dengan ibu jari—gini...” Hanna mengambil tangan Min-ho, menggosok punggung tangannya dengan gerakan melingkar lembut. “Rasakan, gerakan seperti ini bisa bilang ke dia kalau kamu seneng banget bisa deket gini sama dia. Ini bikin pemalu merasa punya kontrol, dan mereka akan lebih terbuka. Dia akan menimbang, lanjut mempersilahkan atau berhenti. Kalau tangannya ditarik, berarti dia belum siap melangkah lebih jauh.”"Baiklah..."
Min-ho mencoba mempraktikkannya, ia menggosok punggung Hanna pelan-pelan sekali. Hanna tersenyum, mengangguk puas. "Anak pintar...sekarang kamu bisa membayangkan kalau wajahku adalah Jeong Min." Min Ho tersenyum karena dipuji dan langsung membayangkan wajah tunangannya. “Bagus. Step kedua: mulai sentuhan dari yang non-seksual. Untuk pemalu, jangan langsung ke dada atau paha. Mulai dari rambut, leher, bahu. Coba... sentuh rambutku pelan, lanjut sisir dengan jari. Kamu boleh mencium kepalaku ini juga...” Min-ho mengangkat tangannya yang gemetar, jarinya menyusuri rambut Hanna dengan hati-hati meski masih terasa kasar, pelan seperti sedang menyentuh sutra mahal. Hanna mendesah kecil, suara yang sengaja dibuat untuk contoh tapi terasa nyata. “Sentuhan paling aman dan paling bikin merinding adalah leher dan belakang telinga. Begini...” Hanna mengangkat tangannya, jari telunjuk dan tengahnya menyusuri leher Min-ho dengan sangat pelan—hanya ujung jari yang menyentuh, seperti bulu yang menggelitik. Dia berhenti di belakang telinga, lalu mengelus cuping telinga dengan gerakan melingkar kecil. Hmmmph Min Ho mengerang.Di ruangan rahasia lantai bawah, kegelapan terasa lebih pekat setelah pintu tertutup. Cahaya lentera kecil di sudut ruangan cuma mampu menerangi sebagian kecil—bayangan naga emas di dinding batu hitam berkilau samar seperti mata yang mengawasi, aroma cendana dari dupa yang sudah padam masih menggantung di udara seperti napas lama yang enggan pergi. Hanna duduk di lantai tatami yang dingin, jubah sutra basah menempel di kulitnya, air masih menetes pelan dari ujung rambut hitamnya ke bahu, membentuk genangan kecil yang dingin di bawahnya. Napasnya tersengal, dada naik-turun cepat, mata hijau tajamnya berkaca-kaca tapi tatapannya sudah kembali tegas—panik tadi mulai digantikan oleh tekad yang dingin.Kenzo berdiri di ambang pintu, handuk putih melilit pinggang, kulitnya masih berkilau karena sisa air bathtub. Matanya tidak lepas dari Hanna, tatapannya campur antara kejutan, kekaguman, dan tekad yang tidak mau mundur.Hanna bangkit pelan, tangannya memegang jubah agar tidak terbuka lebih
Di saku kemejanya, Kenzo meraba kartu akses hotel bintang lima yang sempat ia tempati sebelum dijemput. Di sana, ia sempat membaca ulang berkas-berkas digital tentang "Konsultan" ini. Website Pulau Cinta sendiri adalah mahakarya enkripsi. Sebagai ahli teknologi, Kenzo sempat mencoba meretas firewall-nya hanya karena iseng, namun ia selalu berakhir dengan kegagalan total. "Siapa Konsultan ini?" Gumam Kenzo.Di belahan dunia yang berbeda, tepatnya di dek kapal cepat yang membelah ombak laut dalam, Kenzo Tanaka sedang merutuki keputusannya sendiri. Angin laut yang dingin menerpa wajahnya, namun ia tetap berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada. Kemeja putihnya yang mahal sedikit terbuka di bagian kerah, menampakkan lehernya yang jenjang dan kokoh."Tuan Kenzo, kita sudah memasuki wilayah Khusus Pulau Cinta. Saya harus menjalankan prosedur," suara pria berseragam hitam di sampingnya terdengar tegas namun sopan.Kenzo menoleh, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipi
Malam itu, setelah mantra dukun selesai diucapkan, gubuk di hutan gelap itu terasa lebih dingin. Asap dupa hitam masih melayang tebal, membentuk lingkaran aneh di sekitar Empress Miko yang berlutut. Wanita tua bermata buta itu—dukun yang dikenal sebagai Yami no Majo, Penyihir Kegelapan—tersenyum tipis, giginya kuning dan tajam seperti taring ular."Kutukan sudah tertanam, Ratu," katanya dengan suara serak yang seperti gesekan daun kering. "Selir itu takkan menua lagi. Jantungnya akan membeku, tak berdegup kencang untuk siapa pun selain pemilik Benih Suci. Dan tato naga di pahanya… itu akan jadi pengingat abadi. Naga itu akan bangun hanya saat kutukan retak—bersinar emas terang, panas seperti api neraka. Tapi sebelum itu, ia hanya akan jadi tanda kutukan yang semakin dalam."Miko menatap dukun dengan mata penuh kepuasan bercampur ketakutan. "Bagaimana caranya agar Kaisar menolaknya? Aku ingin dia diusir dari istana, diasingkan seperti sampah."Dukun tertawa pelan. "Naga itu akan memban
Hanna berdiri di depan cermin besar, jari-jarinya perlahan menyusuri garis lehernya sendiri, menelusuri tetesan air yang masih menempel dari mandi tadi. Setiap sentuhan kecil itu membangkitkan ingatan yang sudah lama dia kubur, ingatan tentang tubuh yang pernah membara, tentang malam-malam di mana hasrat adalah satu-satunya bahasa yang dia pahami. Napasnya menjadi lebih berat, dadanya naik-turun lebih cepat, seolah tubuh abadinya masih ingat rasa panas yang dulu.Dia menutup mata, dan dunia sekarang lenyap. Yang tersisa hanyalah malam tiga abad lalu, di kamar pribadi Kaisar Hiroshi.Kaisar Hiroshi menemukannya saat Hanna tersasar di hutan. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Kaisar Hiroshi langsung membawanya ke istana dan menjadikannya selir.Sejak saat itu, ruangan Hanna itu seperti sarang kenikmatan bagi mereka berdua. Dinding kayu hitam berkilau di bawah cahaya puluhan lilin merah yang meleleh perlahan, meneteskan lilin panas ke tatami.Aroma dupa cendana tebal dan manis me
Hanna berdiri di balkon lantai dua mansion, angin malam dari lautan yang berada di tengah-tengah antara Jepang dan korea membelai rambut hitam panjangnya yang masih sedikit lembab dari keringat sesi dengan Min-ho. Gaun sutra merah marunnya sudah rapi lagi, tapi aroma cendana dan ylang-ylang masih nempel di kulitnya seperti bisikan yang enggan hilang.Dia tarik napas dalam, tangan kanannya otomatis menyentuh dada—tepat di atas jantung yang selama tiga abad ini cuma berdetak pelan, mekanis, kayak jam tua yang udah lupa cara berdegup kencang.Nggak ada reaksi lebih dari tubuh Hanna dengan kegiatannya dengan Min Ho.Hanna tutup mata, ingat lagi momen klimaks tadi. Saat Min-ho lepas di dalamnya, dia nunggu—seperti ratusan kali sebelumnya—tanda yang dia cari selama berabad-abad.Jantungnya tetap diam. Nggak ada debaran liar mendadak, nggak ada rasa hangat yang nyebar dari dada ke seluruh tubuh kayak api yang tiba-tiba hidup lagi. Dengan Min Ho, yang ia rasakan cuma detak biasa, dingin, abad
Min Ho merasa sudah ahli dalam sekejap. Ia menggenjot Hanna dengan penuh nafsu. Min-ho mengerang panjang, badannya melengkung di bawah Hanna kayak orang yang akhirnya nyerah total. Udara di kamar udah berat banget, campur bau minyak ylang-ylang yang manis, keringat mereka, dan sedikit aroma cendana yang nempel di kulit Hanna. Cahaya bulan nyelinap lewat dinding kaca, bikin sprei sutra hitam yang udah acak-acakan kelihatan makin menggoda. Hanna masih di atas, tatapannya nyorot ke wajah Min-ho yang tertutup kain sutra hitam. Bibir pria itu setengah terbuka, napasnya ngos-ngosan, tangannya nyengkram pinggul Hanna kayak takut kehilangan pegangan. “Ya… aku siap,” gumam Min-ho, suaranya serak dan penuh gairah. “Ajarin aku… bikin aku bisa bikin dia gila nanti.” Hanna nyengir kecil, meski Min-ho nggak bisa liat. Tangan kanannya masih main-main di tonjolan keras di celana dalam pria itu, digosok pelan-pelan lewat kain tipis yang udah basah. “Bagus, sayang,” bisiknya sambil mendekat ke







