登入Aiko masih gemetar hebat di pangkuan Kenzo, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya basah keringat dan cairan mereka yang bercampur. Vaginanya masih berdenyut pelan di sekitar penis Kenzo yang masih tertanam dalam. “Baiklah sepertinya aku harus pergi…” kata Kenzo dengan suara rendah sambil mencium tengkuk Aiko sekali lagi, nada santai dan sedikit menggoda. Aiko langsung membelalak. “What?! Segini doang?!” protesnya keras, suaranya masih serak karena desahan tadi. Ia berusaha membalikkan badan, tapi Kenzo menahan pinggulnya tetap di tempat. “Kamu bercanda ya? Aku belum puas, Kenzo!” Kenzo tertawa pelan di telinganya, suaranya dalam dan nakal. “Hahaha...nagih ya ternyata?” Aiko menggigit bibir, wajahnya merah padam campur kesal dan nafsu. “Dasar sombong… kamu pikir aku bakal memohon?” Kenzo menarik penisnya keluar perlahan dari vagina Aiko, membuat gadis itu mendesah kecewa karena rasa kosong yang tiba-tiba. "Loh serius?" Kenzo membalikkan tubuh Aiko hingga menghadapn
Aiko masih tersengal di pelukan Kenzo, tubuhnya lemas setelah orgasme pertama yang kuat. Pipinya merah padam, napasnya berat. Tapi matanya masih penuh tantangan. "Kamu pikir cuma kamu yang bisa bikin orang gemetar?” ucap Aiko dengan nada a Sebelum Kenzo sempat menjawab, Aiko mendorong dada pria itu pelan hingga Kenzo mundur selangkah. Dengan gerakan anggun yang penuh kendali, Aiko turun dari meja, berlutut di depan Kenzo di atas karpet lembut ruangan VIP. Kenzo mengangkat alis, terkejut tapi tersenyum cool. “Oh? Tuan putri mau ambil alih?” tanyanya, suaranya rendah dan menggoda. Aiko menatap Kenzo dari bawah dengan mata genit dan angkuh. Tangannya naik ke resleting celana Kenzo, membukanya perlahan sambil menjaga kontak mata. “Aku bos di sini, Kenzo,” bisiknya manja. “Kamu cuma tamu. Biar aku tunjukin... aku juga bisa bikin kamu gila.” Dia menurunkan celana dan boxer Kenzo sekaligus. Penis Kenzo melompat keluar, sudah sangat keras dan tegang. Aiko tersenyum melihatnya, li
Klik. Pintu ruangan VIP tertutup dan terkunci, memisahkan Kenzo dan Aiko dari dentuman musik ramai di lantai bawah. Ruangan itu kecil tapi mewah — sofa kulit merah beludru yang lebar, lampu redup berwarna amber yang menciptakan bayangan panjang, dan dinding kaca satu arah yang menghadap lantai dansa di bawah. Aiko berjalan dengan angkuh ke tengah ruangan, pinggulnya meliuk pelan, dress merah maroon pendeknya naik sedikit memperlihatkan paha mulusnya. Dia berbalik, menyandarkan pinggul ke meja marmer, tangannya bersilang di bawah dada sehingga belahan dadanya semakin terlihat. Matanya menatap Kenzo dari atas ke bawah dengan senyum genit yang sombong. “Jadi...” katanya, suaranya manja tapi penuh kendali, seperti bos yang sedang menguji karyawan. “Kamu berani sekali tadi di lantai dansa. Sekarang aku ingin tahu apa omonganmu tadi cuma bualan?” Kenzo berdiri di depannya, tangannya di saku celana, posturnya santai tapi penuh aura. Dia tersenyum tipis, mata tajamnya menatap Aiko tanp
Di dalam gua yang hanya diterangi cahaya obor kecil, udara terasa semakin hangat dan tebal. Suara air terjun di luar gua mengalun deras, menutupi segala suara, menciptakan dunia kecil yang hanya milik mereka berdua. "Maafkan aku yang lancang Hanako..." Hanako tidak menjawab, tapi tidak bergerak. Ia tidak pernah membayangkan seorang kaisar Jepang akan jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya. "Hiroshi aku...kenapa aku? Banyak wanita lain yang lebih cantik akan dengan mudah kamu jadikan selir..." "Sejujurnya aku tidak tahu apa...tapi semenjak hari itu. Tidurku tidak nyenyak lagi..." "Tapi aku tidak mau pergi ke istana...aku cuma mau bebas di sini..." "Aku tidak akan memaksamu datang bersamaku ke istana. Aku bisa dengan mudah menyelinap ke sini untukmu asal kau memperbolehkan aku menjadi priamu..." "Hiroshi..." Hiroshi menempelkan dahinya perlahan ke dahi Hanako. Jarak di antara bibir mereka tinggal sehelai napas. Begitu dekat hingga mereka bisa merasakan kehangatan bibir m
Beberapa hari setelah pertemuan pertama di sungai, Kaisar Hiroshi kembali ke tempat yang sama. Kali ini bukan dengan rombongan besar, hanya ditemani dua pengawal kepercayaan yang menjaga jarak. Dia meninggalkan jubah kebesaran istana, hanya memakai pakaian sederhana berwarna hitam gelap yang biasa dipakai saat berburu dan meminta pengawalnya segera pergi. Sore itu, Hiroshi duduk di tepi sungai dengan kail sederhana di tangan. Dia tidak benar-benar memancing, matanya lebih sering melirik ke arah hutan, menunggu. Tak lama kemudian, Hanako muncul. Rambut hitamnya tergerai, mengenakan gaun linen putih sederhana yang longgar. Dia membawa keranjang anyaman kecil berisi akar-akaran dan buah hutan. Saat melihat Hiroshi, langkahnya sempat terhenti, tapi dia tidak lari. “Kamu kembali,” katanya pelan, suaranya seperti angin yang menyapu permukaan air. Hiroshi tersenyum manis, meletakkan kailnya. “Aku bilang aku akan datang mencarimu lagi. Dan aku bukan orang yang suka ingkar janji.”
Gerbang utama istana terbuka lebar di bawah cahaya obor yang berkelap-kelip. Angin malam membawa aroma bunga krisan dan dupa kayu cendana dari aula utama. Rombongan Kaisar Hiroshi memasuki halaman dalam dengan derap kuda yang pelan, para prajurit berlutut hormat, dan para dayang berbaris rapi menyambut. Hiroshi turun dari kuda dengan gerakan yang tetap gagah meski tubuhnya lelah setelah perburuan panjang. Jubah hitamnya penuh debu jalan, rambut panjangnya masih sedikit acak-acakan, tapi matanya... matanya jauh. Permaisuri Miko sudah menunggu di beranda aula utama. Dia berdiri dengan anggun, kimono sutra merah marun dengan sulaman burung phoenix emas membalut tubuhnya yang ramping dan sempurna. Rambut hitamnya ditata tinggi dengan hiasan giok dan tusuk konde perak, wajahnya dihias tipis dengan bedak putih dan bibir merah cerah. Matanya—hitam pekat seperti malam—berkilau penuh semangat saat melihat suaminya kembali. Sudah hampir sebulan Hiroshi pergi berburu, dan malam ini dia sudah me
Mereka terengah-engah dalam diam yang hangat, tubuh saling menempel di atas sprei sutra hitam yang sudah kusut. Keringat mereka bercampur, aroma cendana dari Hanna dan cedar segar dari Kenzo menciptakan kabut yang memabukkan di ruangan. Hanna masih di atas, merasakan denyut terakhir dari Kenzo di d
Hanna menarik napas dalam, menatap Min-ho dengan mata yang sudah gelap karena hasrat.“Sekarang... kita ke tahap yang lebih dalam,” katanya, suaranya serak tapi tetap tenang. “Kamu sudah tahu cara bikin aku basah dan gemetar. Sekarang... aku mau kamu coba masuk. Tapi ingat aturan pemalu: pelan seka
"Liat... aku cuma sentuh ringan. Tapi kamu pasti merinding kan? Itu karena saraf di leher dan telinga sangat sensitif. Wanita pemalu biasanya langsung merespons kalau kamu mulai dari sini. Napasnya akan jadi lebih cepat, badannya akan gemetar kecil—tapi bukan takut, itu tanda dia mulai terangsang. N
Di ruangan rahasia lantai bawah, kegelapan terasa lebih pekat setelah pintu tertutup. Cahaya lentera kecil di sudut ruangan cuma mampu menerangi sebagian kecil—bayangan naga emas di dinding batu hitam berkilau samar seperti mata yang mengawasi, aroma cendana dari dupa yang sudah padam masih menggant







