LOGINApakah Anda pria yang insecure? Merasa malu karena masih perjaka di usia matang dan belum ahli di ranjang? Penasaran dengan keinginan terdalam wanita? Hanna adalah solusinya. Di sebuah pulau terpencil yang tersembunyi dari peta, tinggallah seorang wanita dengan kecantikan abadi yang membeku selama tiga ratus tahun. Di balik kemewahan mansionnya, Hanna menjalankan bisnis rahasia paling eksklusif: memberikan "pelatihan keintiman" bagi pria elit berusia 30-40 tahun yang masih terjebak dalam rasa malu karena status perjaka mereka. Namun, Hanna bukan sekadar pemuas nafsu. Ia adalah pencari "Benih Suci", satu-satunya kunci untuk mengakhiri kutukan keabadian yang menyiksanya. Aturan Main Hanna: 1. Klien harus perjaka dan tidak terikat pernikahan. 2. Pendaftaran dilakukan melalui website Pulau Cinta 3. Klien yang terpilih akan dijemput dan dibawa ke lokasi tempat praktek rahasia. 4. Selama proses, mata klien wajib tertutup. 5. Identitas "Konsultan" adalah rahasia. 6. Dilarang melibatkan perasaan. 7. Di akhir sesi, Konsultan akan memberikan kartu resep dan tips rahasia agar sang pria bisa memuaskan pasangan masa depannya secara sempurna. Semua berjalan sesuai protokol yang Hanna sudah tetapkan selama berabad-abad, hingga Kenzo Tanaka tiba. CEO teknologi yang dingin dan skeptis itu datang bukan karena gairah, melainkan rasa ingin tahu yang logis. Namun, saat kulit mereka bersentuhan, dinding es yang dibangun Hanna selama tiga abad retak seketika. Setelah sekian lama, Hanna merasakan debaran hangat di dadanya. Sebuah detak jantung yang seharusnya sudah mati ratusan tahun lalu. Di tengah ancaman Angel101, seorang sosialita yang terobsesi membongkar identitasnya, karena dendam pasangannya yaitu mantan klien Hanna terobsesi dengannya. Di sisi lain, Hanna harus menghadapi dilema: menjalankan tugas profesionalnya dengan Kenzo atau menyerah pada debaran yang bisa menghancurkan segalanya.
View MoreDi pelabuhan Pulau Cinta, angin laut malam hari membawa aroma garam dan misteri. Kapal cepat mewah berlabuh dengan pelan, mesinnya mati di tengah deru ombak kecil.
Dengan gagah seorang pria turun dari kapal, tubuhnya tinggi dan berotot, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata coklat yang penuh kepercayaan diri. Nama aliasnya: "Klien 708". Usia 35 tahun, pengusaha sukses dari Tokyo, katanya perjaka. Asisten Hanna, seorang pria kekar bernama Ryu, menyambutnya dengan senyum profesional. “Selamat datang, Klien 708. Tolong ikuti saya ke ruang verifikasi terakhir.” Pria itu—nama asli Haruto—mengangguk santai, tapi di dalam hatinya berdegup kencang karena tak sabar. Dia sudah bayar jutaan supaya dokter mau memanipulasi hasil tes darah dan fisiknya supaya dia tampak seperti perjaka on paper. “Mudah saja,” pikirnya. “Mereka cuma cek dokumen. Tidak akan ada yang tahu.” Ryu membimbing Haruto ke dalam ke villa mewah, melewati hall marmer putih yang berkilau di bawah cahaya bulan. Ryu membawa Haruto ke ruangan kecil dengan sofa empuk dan meja kaca. Di sana, seorang wanita cantik dengan gaun hitam ketat menunggu—bukan Hanna, tapi salah satu "asisten verifikasi" bernama Mika. Mika tersenyum manis, tapi matanya tajam seperti elang. Haruto menelan ludahnya. Tubuh Hanna yang kurus bak girlband KPOP tapi pakaiannya sangat menggoda. "Apakah wanita ini yang akan memuaskannya nanti?" pikir Haruto. “Silakan duduk, Klien 708,” kata Mika, suaranya lembut tapi penuh otoritas. “Ini verifikasi terakhir sebelum bertemu Nona Hanna. Kami harus pastikan semua sesuai kriteria. Tolong lepas baju atas Anda untuk pemeriksaan fisik singkat.” "Aku? Telanjang? Di ruang tamu ini?" tanya Haruto. Dengan wajah lurus tapi tetap bersikap ramah, Mika mengangguk. Haruto bingung tapi tetap mengangguk, melepas kemejanya dengan percaya diri, memperlihatkan dada berotot dan perut six-pack yang terlatih. Mika mendekat, tangannya mengenakan sarung tangan latex, menyentuh dada Haruto dengan gerakan profesional—tapi ada sesuatu yang sensual di sentuhannya, seperti sedang menguji reaksi. “Napas dalam-dalam,” bisik Mika, telapak tangannya menekan dada Haruto tepat di atas jantung. Haruto menurut, tapi napasnya tetap tenang—dia sudah berpengalaman, tahu bagaimana mengontrol diri. Mika tersenyum tipis, lalu tangannya turun ke pinggang, membuka ikat pinggang Haruto dengan cepat tapi halus. Haruto terkejut, tapi tidak menolak. Mika melanjutkan, tangannya menyentuh area sensitif Haruto dengan gerakan lembut, mengelus pelan seperti sedang memeriksa tapi juga menggoda. “Reaksi tubuh Anda... normal,” kata Mika, suaranya datar. Tapi di dalam, dia sudah curiga—reaksi Haruto terlalu tenang, terlalu terkendali. Perjaka biasanya gemetar atau mendesah kaget saat disentuh seperti ini. Haruto tersenyum sombong. “Tidak ada yang aneh bukan? saya siap bertemu Nona Hanna sekarang?” Mika mengangguk, tapi matanya menyipit. “Tunggu di sini sebentar. Kami akan siapkan ruangan.” Mika keluar, langsung menghubungi Hanna melalui interkom. “Nona, Klien 708... reaksinya terlalu tenang. Tidak ada getar perjaka. Saya curiga dia memalsukan tes.” Hanna, di kamar pribadinya, menatap layar hologram dengan data Haruto. Matanya hijau tajam menyipit. “Cek ulang rekaman medisnya. Dan... kirim dia ke ruang 'sample' dulu. Biar aku lihat sendiri.” Haruto dibawa ke ruangan mawar—ruangan beraroma ylang-ylang dan lavender, dengan ranjang sutra hitam dan cahaya redup. Mika memandu Haruto duduk, mata tertutup kain sutra hitam. “Tunggu di sini,” kata Mika. “Nona Hanna akan datang sebentar lagi.” "O-oke..." ucap Haruto. Tidak lama kemudian, Hanna dengan langkah ringan dan sunyi memasuki ruangan. Kali ini dia yang datang sendiri. Dia duduk di depan Haruto, tangannya menyentuh rahang pria itu dengan lembut. Haruto mendesah, tubuhnya langsung merespons—tapi lagi-lagi, terlalu tenang, terlalu berpengalaman. Hanna bisik di telinga Haruto, “Minum ini dulu...ini minuman relaksasi.” Haruto minum, tapi itu bukan relaksasi biasa—itupun obat kejujuran ringan yang membuatnya menceritakan rahasia tanpa sadar. “Kenapa kamu ingin datang ke sini?” tanya Hanna, suaranya seperti hembusan angin panas. Haruto tersenyum di balik penutup mata. “Aku ingin... rasa baru. Istriku sudah membosankan. Dia hamil, tidak bisa layani aku seperti dulu. Aku dengar Nona Hanna... legendaris.” Hanna tersenyum dingin. “Kamu sudah menikah? Dan memalsukan tes perjaka?” Haruto tertawa kecil. “Ya... mudah saja. Dokter bayaran... dan aku tahu cara berpura-pura gugup.” Hanna berdiri, sinyal ke Ryu melalui interkom tersembunyi. “Baiklah. Ryu, usir dia.” Ryu masuk dengan dua pengawal, menarik Haruto keluar ruangan. Haruto berjuang, tapi percuma. “Tunggu! Aku sudah bayar mahal! Aku ingin Nona Hanna!” Hanna berdiri di depannya, melepas penutup mata Haruto. Matanya hijau tajam menatap pria itu dengan dingin. “Kau pikir kamu bisa mengelabui aku? Pulau ini bukan untuk penipu seperti kamu. Kamu sudah menikah, kamu tidak masuk kriteria. Keluar dari sini sekarang, atau aku laporkan ke polisi atas pemalsuan dokumen medis.” Haruto pucat, tapi masih sombong. “Kamu enggak punya bukti!” Hanna tersenyum tipis, memutar rekaman hologram dari interkom—rekaman Haruto minum obat kejujuran dan mengaku. “Aku punya segalanya. Dan kalau kamu kembali, aku akan buat kamu menyesal.” Haruto diusir ke kapal, dikirim kembali ke daratan dengan tangan kosong, tanpa refund. Hanna berdiri di dermaga, angin laut mempermainkan gaun merah marunnya. “Ryu,” katanya dingin. “Perketat verifikasi. Jangan ada lagi penipu seperti itu. Pulau ini untuk yang benar-benar membutuhkan... bukan untuk yang sudah rusak seperti dia.” Ryu mengangguk. "Mohon maaf nona. Saya janji akan lebih ketat lagi." Hanna tidak menunggu sampai Ryu beres bicara, ia sudah kembali ke villa.Gerbang utama istana terbuka lebar di bawah cahaya obor yang berkelap-kelip. Angin malam membawa aroma bunga krisan dan dupa kayu cendana dari aula utama. Rombongan Kaisar Hiroshi memasuki halaman dalam dengan derap kuda yang pelan, para prajurit berlutut hormat, dan para dayang berbaris rapi menyambut. Hiroshi turun dari kuda dengan gerakan yang tetap gagah meski tubuhnya lelah setelah perburuan panjang. Jubah hitamnya penuh debu jalan, rambut panjangnya masih sedikit acak-acakan, tapi matanya... matanya jauh. Permaisuri Kiyomi sudah menunggu di beranda aula utama. Dia berdiri dengan anggun, kimono sutra merah marun dengan sulaman burung phoenix emas membalut tubuhnya yang ramping dan sempurna. Rambut hitamnya ditata tinggi dengan hiasan giok dan tusuk konde perak, wajahnya dihias tipis dengan bedak putih dan bibir merah cerah. Matanya—hitam pekat seperti malam—berkilau penuh semangat saat melihat suaminya kembali. Sudah hampir sebulan Hiroshi pergi berburu, dan malam ini dia sudah
300 tahun yang lalu Matahari sudah condong sangat rendah ketika rombongan Kaisar Hiroshi akhirnya memutuskan berhenti di tepi sungai yang jernih itu. Istana masih delapan jam perjalanan lagi—terlalu jauh untuk ditempuh dalam kegelapan malam yang mulai turun. Para pengawal segera mendirikan tenda sederhana, menyalakan api unggun kecil, dan mengurus kuda-kuda yang sudah kelelahan. Hiroshi sendiri melepas armor peraknya yang berat, meninggalkan hanya jubah dalam hitam tipis yang menempel di tubuhnya yang penuh otot dan bekas luka perburuan. Rambut hitam panjangnya terlepas dari ikatan, menjuntai basah oleh keringat dan embun sore. “Tuanku, istirahat dulu di sini,” kata kepala pengawal dengan hormat. “Kami jaga malam ini.” Hiroshi mengangguk tanpa banyak bicara. Dia berjalan menyusuri tepian sungai, mencari ketenangan setelah seharian mengejar rusa besar di hutan pegunungan. Air sungai mengalir tenang, suaranya seperti bisikan yang menenangkan. Dia berniat mencuci muka dan tangan, ta
Pagi di Seoul terasa lebih cerah dari biasanya, meski langit masih diselimuti awan tipis musim gugur. Di apartemen minimalis di Gangnam, Min-ho terbangun tepat pukul 06:15 seperti rutinitasnya selama bertahun-tahun. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui tirai linen putih, menerangi tubuhnya yang telanjang di bawah selimut tipis. Dia duduk di tepi ranjang, menggosok wajahnya pelan, lalu menatap ponsel di meja samping.Pesan terakhir dari Jeong Min masih terbaca: **Jeong Min (kemarin malam 23:47):** Oppa pulang kapan? Aku kangen... jangan terlalu capek ya. Love you ♡Min-ho tersenyum kecil—senyum yang sekarang terasa lebih hangat, lebih penuh makna. Dia mengambil ponsel, jarinya mengetik dengan tenang tapi pasti.**Min-ho (06:18):** Pagi sayang. Aku sudah bangun. Hari ini aku jemput kamu jam 7 malam ya, kita dinner. Aku kangen juga. Pakai dress biru yang aku suka itu. Love you more.Dia mengirim, lalu meletakkan ponsel dan berjalan ke kamar mandi. Air dingin mengguyur tubuhnya, tapi
Di ruangan rahasia lantai bawah, kegelapan terasa lebih pekat setelah pintu tertutup. Cahaya lentera kecil di sudut ruangan cuma mampu menerangi sebagian kecil—bayangan naga emas di dinding batu hitam berkilau samar seperti mata yang mengawasi, aroma cendana dari dupa yang sudah padam masih menggantung di udara seperti napas lama yang enggan pergi. Hanna duduk di lantai tatami yang dingin, jubah sutra basah menempel di kulitnya, air masih menetes pelan dari ujung rambut hitamnya ke bahu, membentuk genangan kecil yang dingin di bawahnya. Napasnya tersengal, dada naik-turun cepat, mata hijau tajamnya berkaca-kaca tapi tatapannya sudah kembali tegas—panik tadi mulai digantikan oleh tekad yang dingin.Kenzo berdiri di ambang pintu, handuk putih melilit pinggang, kulitnya masih berkilau karena sisa air bathtub. Matanya tidak lepas dari Hanna, tatapannya campur antara kejutan, kekaguman, dan tekad yang tidak mau mundur.Hanna bangkit pelan, tangannya memegang jubah agar tidak terbuka lebih






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.