Di ruangan rahasia lantai bawah, kegelapan terasa lebih pekat setelah pintu tertutup. Cahaya lentera kecil di sudut ruangan cuma mampu menerangi sebagian kecil—bayangan naga emas di dinding batu hitam berkilau samar seperti mata yang mengawasi, aroma cendana dari dupa yang sudah padam masih menggantung di udara seperti napas lama yang enggan pergi. Hanna duduk di lantai tatami yang dingin, jubah sutra basah menempel di kulitnya, air masih menetes pelan dari ujung rambut hitamnya ke bahu, membentuk genangan kecil yang dingin di bawahnya. Napasnya tersengal, dada naik-turun cepat, mata hijau tajamnya berkaca-kaca tapi tatapannya sudah kembali tegas—panik tadi mulai digantikan oleh tekad yang dingin. Kenzo berdiri di ambang pintu, handuk putih melilit pinggang, kulitnya masih berkilau karena sisa air bathtub. Matanya tidak lepas dari Hanna, tatapannya campur antara kejutan, kekaguman, dan tekad yang tidak mau mundur. Hanna bangkit pelan, tangannya memegang jubah agar tidak terbuka leb
Read More