Kenzo Tanaka duduk di kepala meja konferensi lantai 38 gedung perusahaannya di Shibuya, Tokyo. Jam sudah menunjukkan pukul 21:15, tapi ruangan masih penuh cahaya layar projector dan lampu neon kota yang menyusup dari jendela kaca lebar. Tim inti—sepuluh orang terbaik dari divisi strategi, keuangan, dan legal—masih duduk tegak, laptop terbuka, mata lelah tapi waspada. Meeting sudah berlangsung empat jam, dan Kenzo belum menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhirinya. Dia mengetuk pena di meja sekali—suara kecil tapi tajam seperti palu hakim. Semua langsung diam. "Data proyeksi Q3 dari divisi distribusi masih off 7,2% dari target," katanya datar, suaranya dingin tapi jelas, tanpa emosi. "Kalian bilang 'fluktuasi pasar'. Aku nggak bayar kalian untuk kasih alasan. Aku bayar untuk solusi. Yamamoto-san akan tanya besok pagi via video call. Kalau jawaban kalian masih 'fluktuasi', merger ini bisa batal. Dan kalau batal, kalian semua tahu konsekuensinya." Seorang analis muda, perempuan berusia
Read More