Ruangan pribadi Anna terasa seperti sarang hasrat yang tertutup rapat, pintu terkunci, suara koridor luar hanya samar seperti dengung jauh. Sofa kulit hitam panjang itu sudah jadi panggung utama, lampu redup menyinari tubuh mereka dengan cahaya keemasan lembut, membuat keringat tipis di kulit Anna berkilau seperti permata cair. Udara semakin tebal, aroma vanila manis dari parfum Anna bercampur dengan cedar maskulin Kenzo dan bau hasrat yang semakin kuat—lembab, asin, memabukkan seperti anggur yang terlalu lama disimpan. Anna masih di pangkuan Kenzo, rok bisnis hitamnya sudah tergeser tinggi hingga pinggul, blouse putih tipisnya terbuka beberapa kancing, payudaranya naik-turun cepat menekan dada Kenzo setiap kali dia bergerak. Batang Kenzo sudah masuk dalam—hangat, licin, ketat—Anna menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan, tapi suaranya tetap lolos pelan, genit, dan penuh godaan. "Oppa... kamu besar sekali... panas... isi aku penuh..." desahnya manja, suaranya bergetar karena
続きを読む