Malam sudah hampir pukul sepuluh. Lampu utama sudah dimatikan sejak tadi. Hanya lampu sudut di pojok ruangan yang menyala, cahayanya kuning hangat yang membuat ruangan kecil Clara terasa lebih sempit sekaligus lebih nyaman dari ukuran sebenarnya. Di layar TV, sebuah program varietas terus berjalan dengan suara yang sudah diturunkan ke volume yang tidak mengganggu siapa pun tapi cukup untuk mengisi keheningan. Clara duduk di ujung sofa dengan lutut ditarik ke dada, memeluk bantal dengan kedua tangan, menatap layar dengan pandangan yang tidak sepenuhnya mengikuti apa yang sedang terjadi di sana. Di ujung sofa yang lain, Ryan duduk dengan punggung bersandar ke sandaran sofa, satu kaki disilangkan di atas yang lain, ekspresinya tidak bisa dibaca dari sudut mana pun tapi matanya terbuka lebar. Tidak mengantuk. "Kata dokter, lukamu tidak boleh kena air dua hari." Clara bicara ke arah TV, tapi tujuannya jelas bukan ke program yang sedang tayang. "Iya." "Besok aku bantu siramkan d
Baca selengkapnya