Lucian menyentakkan tangannya dari kejauhan, menyeret Elena naik ke udara, lalu tersenyum bengis. "Ini istri Guru, bukan? Cantik juga." Elena yang melayang di udara memerah wajahnya, meronta tiada henti. Ia menatap Ryan dengan pandangan memohon. "Ryan, tolong aku, aku tak mau mati. Kalau kau masih mencintaiku, maukah kau mati demi aku?" "Elena!" Ryan menatapnya, tak percaya pada apa yang didengarnya. Ada yang terasa ganjil di hatinya, tetapi ia belum sanggup menunjuk letak keganjilannya. "Jangan ragukan perasaanku padamu!" Elena tersedu. "Kalau ini dulu, aku tak akan pernah takut mati bersamamu. Tetapi sekarang kita punya anak. Aira masih kecil. Demi dia, salah satu dari kita harus rela berkorban." "Waktu habis!" "Mati!" Lucian mendengus, dan Elena yang melayang di udara seketika hancur berubah menjadi abu kelabu yang berhamburan tertiup angin, tak menyisakan apa pun selain hening yang mencekam. Ia lalu menuding Leluhur Mortis di tanah. "Guru, sekarang giliran dia!" "Kawan D
Read more