Ambrose Yamura tersenyum dingin. Setelah berkata demikian, ia memberi isyarat kepada bawahannya. Dua penegak kultivasi Sindikat Yamura segera maju ke arah Solomon, menekan tubuh lelaki tua itu ke atas meja, lalu merenggut kasar pakaiannya sampai terlepas. Pada saat itu, semua orang melihat tubuh kurus Solomon. Di balik usia tuanya, tubuh itu ternyata dipenuhi luka lama. Ada bekas tembakan peluru yang menghitam, bekas tebasan panjang dari bilah tajam, bahkan bekas gigitan yang menganga. Luka-luka itu saling bertumpuk, nyaris menutupi setiap jengkal kulitnya, seperti peta penderitaan yang digoreskan oleh puluhan medan perang. Tidak ada satu luka pun terlihat baru, tetapi setiap parutnya membawa bau darah lama yang berat. Orang-orang di dalam sangkar baja langsung terdiam. Baru kali ini mereka melihat begitu banyak luka yang selama ini tersembunyi di balik tawa dan ketegaran lelaki tua itu. Ambrose pun sedikit terkejut. “Tunggu. Dari mana luka-luka di tubuhmu itu?” Solomon
Baca selengkapnya