LOGINAmarah Ryan Hartono memenuhi ruang bawah tanah seperti langit yang perlahan turun menghimpit.
Tekanan tak kasatmata itu membuat udara terasa berat. Para anggota Sindikat Yamura yang tersisa nyaris sulit bernapas.Ambrose Yamura pun tidak mampu menyembunyikan rasa gentar yang melintas di matanya.Namun ia tetap mengeraskan rahang.Ia tahu, jika dirinya mundur sekarang, semua akan berakhir. Karena itu, ia memaksa diri berdiri dan menatap Ryan dengan wajah be“Peringkat berapa?”Sebelum Rowena sempat menjawab, Hector Sterling sudah lebih dulu mencibir.“Sampah seperti Yorick Sinclair? Jangankan masuk peringkat tinggi, lima puluh besar Daftar Maestro saja dia tidak pernah menyentuhnya.”Saat Hector masih berbicara, pintu-pintu Maybach di depan hotel mulai terbuka satu demi satu.Beberapa sosok muda berjalan turun dari mobil, masing-masing membawa tekanan yang berbeda.“Fulton Lockwood dari Keluarga Lockwood, peringkat sembilan Daftar Maestro.”“Tiberius Draven dari Keluarga Draven, peringkat tujuh Daftar Maestro.”Nama demi nama disebutkan, dan setiap kali satu sosok muncul, suasana di depan lobi terasa semakin berat. Jelas sekali, orang-orang yang datang kali ini bukan lagi wakil biasa seperti pada pertemuan sebelumnya, melainkan tokoh inti dari angkatan muda masing-masing keluarga.Tak lama kemudian, seorang pemuda berpakaian putih turun dari salah satu Maybach.Pupil Selena Tanjaya, Roderick Sterling, Vincent Lowell, dan yang lain langs
Pertanyaan Ryan Hartono membuat ruang tamu vila Keluarga Ashford terdiam selama beberapa detik.Selena Tanjaya hanya menggeleng pelan tanpa menjawab. Roderick Sterling dan Vincent Lowell sama-sama mengerutkan dahi, seolah baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu. Bahkan Rowena dan Reyner saling bertukar pandang dengan wajah pasrah.Hector Sterling menjadi orang pertama yang tidak sanggup menahan diri.Ia mendengus dingin, lalu sudut bibirnya terangkat miring. “Ryan Hartono, kusarankan jangan terlalu percaya diri. Orang yang tahu batas dirinya biasanya hidup lebih lama.”Ryan hanya meliriknya sekilas.Setelah itu, ia kembali mengangkat cangkir teh ke bibir dan menyeruputnya dengan tenang, seolah ucapan Hector tidak lebih dari dengung lalat yang kebetulan lewat di telinganya.“Sudah-sudah. Waktunya berangkat.”Selena melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu bangkit dan memimpin semua orang kelua
Rowena berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Tatapannya lurus tertuju kepada Roderick Sterling dan Vincent Lowell, sementara wajah cantiknya memerah karena marah.“Kak Roderick, Kak Vincent, Ryan itu kawanku. Bagaimana kalian bisa menindasnya seperti ini?”Roderick dan Vincent saling bertukar pandang. Keduanya kemudian tersenyum masam, jelas tidak ingin membuat masalah semakin besar.“Rowena, kapan Kak Roderick pernah menindas kawanmu? Kami hanya bermaksud baik.”“Bagus kalau begitu!” Rowena mendengus dingin. Setelah itu, pandangannya langsung beralih kepada Hector Sterling. “Dan kau, Hector. Kulitmu gatal minta dihajar lagi? Hati-hati, nanti kulaporkan kepada kakakku bahwa kau menindasku.”“Jangan, jangan!”Wajah Hector seketika berubah pucat. Ia buru-buru menggeleng begitu cepat sampai hampir seperti mainan kincir yang tertiup angin.Begitu nama kakak Rowena tersirat, rasa gentar
Ruang tamu Keluarga Ashford kembali tenggelam dalam kesunyian, bahkan lebih berat daripada sebelumnya. Bagaimanapun, sepuluh keluarga kuno Tiga Alam Tertinggi turun ke dunia kali ini demi kapal hantu. Sedangkan lempeng baka adalah syarat mutlak untuk naik ke kapal tersebut. Tidak mungkin mereka tidak peduli. Beberapa orang yang semula masih menyeruput teh perlahan meletakkan cangkir mereka. Tatapan yang sebelumnya hanya penuh rasa ingin tahu kini berubah menjadi jauh lebih tajam. Menghadapi perhatian seluruh ruangan, Ryan Hartono justru tersenyum tipis. “Memang ada.” Ia sama sekali tidak berniat menyangkal. Begitu jawaban itu terdengar, suara tarikan napas tajam langsung bersahutan. Bahkan pupil Roderick Sterling dan Vincent Lowell sedikit mengerut. Yang membuat mereka terkejut bukan hanya karena Ryan benar-benar memegang lempeng baka, tetapi juga karena lelaki itu berani mengakuinya terang-terangan di tengah ruangan yang dipenuhi orang-orang dari keluarga kuno. “Menarik.” R
Beberapa detik setelah Rowena menyebut nama Ryan Hartono, bisik-bisik akhirnya pecah di ruang tamu Keluarga Ashford. Beberapa orang saling mencondongkan tubuh, seolah takut percakapan mereka terdengar terlalu jelas. “Jadi dia Kaisar Iblis Gila dari Selatan?” “Orang yang membunuh Yorick Sinclair dan yang lain?” “Dari penampilannya, tidak kelihatan istimewa.” “Orang dari dunia biasa berani menyebut dirinya nomor satu di Garudapolis?” Mendengar nada bicara yang semakin tidak bersahabat, wajah cantik Rowena sedikit berubah. Tanpa sadar ia maju setengah langkah, seolah berdiri di antara Ryan dan orang-orang di ruangan. “Ryan, biar kuperkenalkan satu per satu.” Ia menunjuk perempuan bergaun ungu yang duduk di kursi utama. “Ini Selena Tanjaya dari Keluarga Tanjaya di Tiga Alam Tertinggi.” Kemudian ia melanjutkan, “Yang ini Roderick Sterling dari Keluarga Sterling.” “Di sana Vincent Lowell dari Keluarga Lowell, dan yang lain juga berasal dari keluarga-keluarga sekutu kami.” Seiri
Reyner mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyalip satu demi satu kendaraan di jalan tol tanpa banyak mengurangi laju. Mesin Lamborghini Veneno meraung rendah setiap kali mobil itu berpindah jalur, sementara Rowena duduk tenang seolah sudah terbiasa dengan cara mengemudi seperti itu. Lebih dari setengah jam kemudian, rombongan mereka akhirnya tiba di luar sebuah vila yang terletak di kawasan lingkar ketiga Metropolitan Alexandris. Bahkan sebelum mobil benar-benar mendekat, Ryan Hartono sudah melihat seseorang berdiri di depan gerbang vila. Seorang pemuda berjubah ungu berdiri dengan punggung tegak lurus. Auranya bergolak seperti bara yang terus ditiup angin, tenang di permukaan tetapi menyimpan tekanan yang sulit diabaikan. Kalau ada praktisi Garudapolis lain melihatnya, hampir pasti mereka langsung mengenali sosok tersebut. Raymond Ashford. Dewa Perang Garudapolis. Sebelum kemunculan Ryan, Raymond sudah bertahan di puncak Daftar Langit selama hampir sepuluh tahun. Baru se
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang







