"Ayah, kenceng banget! Aira nggak bisa napas!" Aira batuk-batuk kecil, tubuhnya menggeliat tidak nyaman di dalam pelukan Ryan. Ryan langsung melepaskan pelukannya, berjongkok di depan Aira dengan wajah panik. "Maaf, maaf! Sakit nggak? Mana yang sakit, sini Ayah lihat." Aira menatapnya sedetik. Lalu meledak tertawa. Tawanya keras dan lepas, tangannya langsung melingkar ke leher Ryan, memeluknya dari depan sambil terkikik tanpa bisa berhenti. "Ayah bodoh! Aira nggak apa-apa." Kepalanya mendongak, masih tertawa. "Ayo pulang, nanti Kakek sama Nenek khawatir." Ryan menghela napas, tapi senyumnya tidak bisa dia sembunyikan. "Iya, iya. Pulang sekarang." Dia menggendong Aira dan berjalan ke konter kasir. Dikeluarkannya dompet, dihitungnya dua juta GDP yang sebelumnya ia ambil dari ATM pemberian keluarga Kristian, dan diserahkan ke kasir. Setelah menerima kembalian, dia berbalik siap keluar. "Pak, tunggu dulu!" Ryan menoleh. Kasir tadi berjalan mendekat sambil membawa boneka beru
Read more