Dion terdiam selama dua detik penuh.Lalu dia menatap Ryan seperti menatap orang yang baru turun dari bulan.Di belakangnya, di antara Lance, Adrian, Rex, dan yang lainnya, tidak satu pun yang bersuara. Bahkan Nadia yang tadi memandang Ryan dengan tatapan meremehkan pun kini hanya diam, alisnya terangkat setengah.'Dia serius?' pikir Lance. Lance sudah berniat bicara, sudah mempersiapkan kalimatnya, berharap nama keluarganya cukup untuk membuat Dion mengalah dan mundur dengan baik-baik. Tapi dengan kalimat Ryan barusan, pintu itu sudah tertutup rapat. Tidak ada jalan mundur yang elegan lagi untuk siapapun di ruangan ini.Rex bersandar ke tembok, menahan tawa yang hampir jebol, bahu kirinya sedikit berguncang. 'Ini sudah keterlaluan. Orang ini benar-benar tidak tahu dirinya siapa.'Stefan membuang muka, senyumnya sinis tapi matanya tidak setenang biasanya.Dion menghela napas pendek, lalu berbicara lebih pelan dari sebelumnya, seperti orang yang sedang bersabar menghadapi anak kecil
Read more