Di sisi lain, bocah tadi membawa gepokan uangnya langsung menuju sebuah bar. Tak lama, seorang bocah berseragam sekolah menghampirinya. "Dimas, kenapa lama sekali?" "Baru saja dapat uang, ya. Ayo cepat, ayo, mereka pasti sudah tidak sabar," Dimas berkata dengan bangga sambil mengeluarkan gepokan uangnya, lalu melangkah masuk ke bar dengan merangkul bahu temannya erat-erat. Tak lama kemudian, mereka duduk di sebuah ruang privat yang temaram, lampu sorot warna-warni berputar pelan di langit-langit, dentuman musik dari luar terdengar teredam oleh dinding kedap suara. Tiga atau empat remaja pria dan wanita sudah lebih dulu duduk di sana, dengan berbagai teh dan anggur merah tersaji di meja kaca. "Kawan-kawan, hari ini aku, Dimas, yang traktir semuanya. Jangan sungkan!" serunya lantang, suaranya menggema di ruangan kecil itu. Bocah itu mengibaskan gepokan uang di tangannya lagi, lalu memanggil pelayan. "Carikan beberapa gadis untuk kawan-kawanku, yang cantik-cantik." Pelayan itu men
Read more