LOGINSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Pawon Mbah Kung atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Rowena menunjuk Darnell dengan wajah teramat teraniaya.“Dia yang merundungku. Tadi dia bahkan berniat membunuhku. Pasti dia masih menyimpan dendam karena dulu Kakak memaksanya berlutut di depan umum.”Wajah Darnell langsung kehilangan warna. Tubuhnya jatuh terduduk dan gemetar hebat.“Salah paham. I... ini salah paham...”Namun sebelum kalimat itu selesai, sebuah daya hisap mengerikan tiba-tiba menarik tubuhnya.Darnell terangkat dari lantai dan melayang lurus ke arah Tavian Suira. Dalam sekejap, lehernya sudah berada dalam cengkeraman Tavian.“Ta... Tavian Suira!” Mata Darnell membelalak penuh ketakutan. “Kau berani membunuhku?!”Boom!Tavian sama sekali tidak menjawab.Tangannya langsung meremas.Suara tulang remuk terdengar serentak, disusul ledakan darah yang menyebar ke udara. Tubuh Darnell berubah menjadi kabut merah dalam satu tarikan napas.“Sampah sepertimu berani merundung adikku?!” Raungan Tavian mengguncang seluruh balai.Semuanya terjadi terlalu cepat.Ketika orang-orang
Suara yang datang tiba-tiba itu terasa begitu mendominasi.Bagai guntur yang meledak dari langit tertinggi, raungannya mengguncang seluruh balai sekaligus menembus telinga setiap orang. Di balik suara itu terkandung niat membunuh yang begitu pekat hingga udara di ruangan seolah ikut membeku.Pfft!Dalam sekejap, banyak orang memuntahkan darah di tempat. Telinga mereka berdenging keras, dada terasa sesak, dan wajah mereka langsung dipenuhi keterkejutan.Beberapa orang yang duduk paling dekat dengan pintu bahkan terjungkal dari kursinya sambil menutup telinga. Cangkir-cangkir teh di atas meja retak hampir bersamaan, sementara lampu kristal di langit-langit bergoyang hebat.Yang membuat semuanya semakin mengejutkan, hampir seluruh orang yang hadir di ruangan itu adalah tokoh Ranah Maestro.Namun hanya dengan satu suara, banyak dari mereka sudah terluka dalam. \Kekuatan seperti itu membuat suasana berubah seketika, dan tidak seorang pun lagi berani menganggap kedatangan pemilik suara
'Mati. Bocah ini pasti mati!'Hector Sterling begitu girang sampai hampir tertawa keras.Bukan hanya dia. Fulton Lockwood, Darnell Devlin, Tiberius Draven, dan yang lain yang sebelumnya masih diliputi amarah kini justru merasa puas. Mereka semula mengira Ryan Hartono akan memilih tunduk begitu menghadapi tekanan Evan Sinclair.Namun Ryan justru menolak mentah-mentah.Rowena menatap Ryan dengan wajah panik. “Ryan...”Ia memang tidak ingin Ryan menuruti syarat Evan. Namun ia juga tidak pernah membayangkan Ryan akan menolaknya dengan cara setegas itu.Di sudut balai, Reyner tanpa sadar mengepalkan kedua tangan. Corwin Lowell menundukkan kepala dan memejamkan mata sesaat, seolah sudah bisa membayangkan akhir dari semuanya.Hector menyeringai. “Rowena, masih mau membelanya? Orang ini sebentar lagi mati. Dia sendiri yang mencari masalah, jadi jangan salahkan siapa pun.”“Bagus.” Suara Evan Sinclair
Pertemuan tantangan ini awalnya dirancang dengan sangat rapi oleh lima keluarga kuno yang dipimpin Keluarga Sinclair.Rencana mereka sederhana.Pertama, rebut lempeng baka dari tangan Rowena.Setelah itu, arahkan sasaran kepada Ryan Hartono dan ambil lempeng miliknya dengan cara yang tampak adil.Namun kenyataan justru berbalik menghantam mereka sendiri.Keluarga Lockwood kehilangan satu lempeng baka.Keluarga Devlin menyusul kehilangan satu lagi.Lebih buruk dari itu, Ryan dua kali berturut-turut mempermalukan mereka di depan semua orang.Dua mayat masih tergeletak di lantai balai.Satu kehilangan kepala.Satu lagi bahkan tidak memiliki kepala utuh lagi.Bau darah yang kental menggantung di udara, seolah menjadi bukti nyata bahwa rencana mereka sudah berantakan.Darnell Devlin, Fulton Lockwood, Tiberius Draven, dan beberapa orang lain kini dipenuhi niat membunuh terhadap Ryan
Debu dan serpihan marmer masih beterbangan memenuhi balai. Beberapa detik kemudian, ketika pandangan mulai kembali jelas, semua orang melihat Ryan masih berdiri di tempat semula. Posisi kakinya bahkan tidak bergeser sedikit pun. Tangan kanannya perlahan kembali terlipat di belakang punggung, seolah serangan tadi tidak membutuhkan tenaga apa pun. Di sisi lain, darah hangat masih memercik ke udara. Kepala Desmond Devlin, bagian paling rapuh dari tubuhnya, sudah hancur berkeping-keping. Tengkoraknya remuk seperti semangka yang dihantam palu, sementara tubuh tanpa kepala itu terjungkal ke belakang. Kedua kakinya sempat mengejang dua kali sebelum akhirnya diam. Senyap. Seluruh balai kembali tenggelam dalam keheningan yang mencekam. Tatapan semua orang membeku. Kalau Tyrell Lockwood, peringkat delapan puluh enam Daftar Maestro, yang dipenggal hanya dengan satu serangan tadi sudah membuat mereka tercengang, maka kematian Desmond benar-benar mengguncang hati mereka. Desmond men
“Tidak perlu bergiliran. Kalian semua boleh maju bersamaan!” Suara dingin Ryan menggema di seluruh balai. Ia mengucapkannya dengan nada datar, seolah sedang menawarkan secangkir teh, bukan menantang lima keluarga kuno sekaligus. “Apa?!” Darnell Devlin yang berdiri di kubu Keluarga Sinclair langsung terpaku. Bukan hanya dia. Hampir semua orang di dalam balai menatap Ryan dengan wajah tidak percaya, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Ryan ingin lima keluarga kuno menyerangnya secara bersamaan. Apakah ia benar-benar berniat menghadapi lima jagoan seorang diri? “Ryan, kau sudah gila?!” Rowena langsung berseru. Baginya, keputusan Ryan untuk terus bertarung saja sudah sulit dipahami. Ia sama sekali tidak menyangka pemuda itu justru menaikkan tantangan lebih jauh. “Gila. Dia benar-benar gila!” Hector Sterling ikut mendengus. Sejak awal ia memang tidak menyukai Ryan, dan sekarang ia mendapat alasan baru untuk mengejek. “Entah cara licik apa yang dia gunakan untuk mem
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be
Gunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan."L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba
Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?""Ryan..." Wulan berbisik, suaran







