"Bocah ini sudah lebih dari sekali mencoba membunuhku." Leluhur Mortis menatap Dimas yang masih pingsan di atas sofa, lalu mendengus dingin. "Dia sungguh mengira aku tidak tahu akal busuknya. Selama ini aku hanya pura-pura tidak tahu." Setelah berkata begitu, ia menoleh kepada Ryan. "Kalau dia hanya anak nakal biasa, mungkin aku masih akan ragu untuk merasukinya. Bagaimanapun, merampas raga seseorang bukan perkara kecil. Tapi sekarang, tekadku justru makin bulat." Matanya menyipit. "Kawan Dao Ryan, kau tidak akan menghalangiku, kan?" "Sudah kubilang, ini urusanmu sendiri. Aku tidak akan ikut campur." Ryan menggeleng samar. Namun setelah menatap Dimas sekilas, ia kembali bertanya, "Hanya saja, kalau kelak kau benar-benar merasukinya, bagaimana kau akan menghadapi ibu tirinya?" "Memangnya harus bagaimana lagi?" Leluhur Mortis terkekeh. "Nanti kukatakan saja yang sebenarnya. Bocah ini toh bukan anak kandung Tania." Ia berhenti sebentar, lalu suaranya sedikit merendah. "Lagi pula
続きを読む