Dentang alat makan perak yang beradu dengan porselen mahal menjadi satu-satunya melodi yang mengisi ruang makan megah kediaman Montclair malam itu. Ruangan ini, dengan langit-langit yang menjulang tinggi dan lukisan-lukisan leluhur yang menatap dingin dari dinding, selalu memiliki kemampuan untuk membuat siapa pun merasa kerdil. Namun, bagi Celestine yang baru saja kembali, keagungan ini terasa seperti jubah lama yang kini pas di bahunya.Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu jati hitam, Grand Duke Montclair duduk dengan punggung tegak sekeras baja. Matanya yang tajam bak elang, yang telah menyaksikan jatuhnya dinasti dan bangkitnya peperangan, tidak sedetik pun lepas dari sosok putri tunggalnya. Ia mengamati cara Celestine memegang pisau, cara ia menyeka sudut bibirnya, dan yang paling penting, cara ia bernapas jauh lebih tenang dan elegan."Kau tampak lebih tenang saat memotong dagingmu, Celestine." suara berat sang Grand Duke bergema, membelah kesunyian dengan otoritas yang
Read more