"Aku tidak pernah membencinya pada awalnya. Justru, dia adalah matahari yang ingin kugapai."Julian menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerja yang dingin, membiarkan kelopak matanya terpejam sejenak. Namun, kegelapan di balik matanya justru memanggil kembali kepingan memori masa kecil yang pahit, seperti cuka yang disiramkan di atas luka lama.Dahulu, di lorong-lorong istana yang megah, Julian kecil pernah memandang punggung Alaric dengan binar kekaguman. Alaric adalah sang Putra Mahkota, sosok idola yang sempurna dengan aura kebangsawanan yang tak tertandingi. Julian pernah bermimpi untuk bisa berjalan di samping kakaknya, menjadi tangan kanannya, dan mendapatkan sedikit saja pengakuan dari sosok yang ia jadikan panutan itu. Namun, dunia istana tidak membiarkan harapkan pangeran kecil itu bertahan lama."Kau lihat dia, Julian? Dia adalah tembok yang harus kau hancurkan jika kau ingin bertahan hidup." suara ibunya, Selir Ketiga, selalu berbisik seperti desis ular di telinganya
Read more