"Kenapa kau terlihat begitu ketakutan, Celine? Bukankah ini yang kau inginkan? Menjadi pusat semesta dari pria yang dulu sangat membencimu?"Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan bergema langsung di dalam kepala Celestine. Ia tersentak, mendapati dirinya berdiri di sebuah ruang hampa yang dibalut kabut putih tak berujung. Di hadapannya, sebuah pemandangan ganjil menyeruak—sebuah ranjang rumah sakit dengan sprei putih bersih yang berbau antiseptik tajam. Di atasnya, terbaring kaku raga Celine. Tubuhnya terlihat kurus, dengan selang infus dan mesin pendeteksi jantung yang berbunyi ritmis.Celestine mencoba melangkah, jemarinya gemetar hendak meraih tangan raga aslinya yang pucat. Namun, saat kulitnya nyaris bersentuhan, tangannya tembus melewati daging itu seolah ia hanyalah segumpal asap yang tak berarti."Kau tidak bisa menyentuhnya lagi." sebuah suara lain muncul, kali ini lebih jernih, lebih dingin.Celestine berbalik dan seketika napasnya tercekat. Di sana, hanya terpaut
Leer más