Aula Agung Dewan Tetua pagi itu diselimuti oleh kemegahan yang kaku. Cahaya matahari yang menembus jendela-jendela patri tinggi menerangi jajaran kursi beludru merah tempat para menteri dan tetua agung kekaisaran duduk dengan postur tegap. Di podium utama, berkas-berkas mengenai anggaran militer tahunan telah dihamparkan, menjadi agenda pembuka yang seharusnya berjalan formal dan membosankan. Selir Ketiga Alice duduk di tribun khusus keluarga kerajaan dengan dagu terangkat anggun. Gaun sutra ungunya yang mewah berkilau indah, memamerkan ketenangan berwibawa seorang wanita nomor tiga di kekaisaran. Di sampingnya, Julian juga berusaha menampilkan senyum tipis yang berwibawa, meyakini bahwa badai yang sempat mengguncang faksi mereka pasca-insiden Seraphina telah mereda. Alice merasa aman, pembunuh bayaran yang ia kirim tiga malam lalu seharusnya sudah menyelesaikan tugas mereka, mengunci rapat mulut Dokter Joseph selamanya. Namun, ketenangan semu itu hancur berantakan ketika Alaric m
Magbasa pa