"Apakah kau selalu semenawan ini saat menghancurkan hidup seseorang, My Lady?"Suara rendah dan serak milik Alaric memecah keheningan paviliun kaca yang terletak di sudut terdalam kediaman Montclair. Malam telah larut, namun sisa-sisa atmosfer ketegangan dari aula perjamuan istana seolah menguap begitu saja, tergantikan oleh aroma manis kelopak bunga yang menari lembut ditiup angin malam.Celestine, yang sedang menyesap teh hangatnya, menoleh perlahan. Sebuah senyuman tipis, anggun namun menyimpan binar jenaka, terukir di bibir ranumnya. "Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik mereka, Alaric. Jika mereka memilih untuk menari di atas duri yang mereka sebar sendiri, itu bukan salahku."Alaric terkekeh rendah, sebuah tawa tulus yang jarang ia perlihatkan kepada dunia. Pria itu melangkah mendekat, mengabaikan jarak formalitas bangsawan yang biasanya mengunci gerak-gerik mereka. Dengan gerakan yang teramat halus namun sarat akan kepemilikan mutlak, Alaric duduk di sampin
Magbasa pa