Pria itu tidak tahu kenapa ibunya bisa membuat janji dengan Patricia setelah lama sekali tidak bertemu, meskipun Azael paham juga bahwa sang ibu sangat dekat dengan wanita di depannya. Patricia tersenyum dan kemudian mempersilahkan pria itu untuk duduk tepat di depannya, "Duduklah. Jangan sungkan!"Tidak mungkin langsung pergi begitu saja, apalagi wanita di depannya tidak berbuat salah sebelumnya sehingga Azael lantas duduk saja dan tidak menganggap semua ini sebagai beban. Patricia tersenyum dan kemudian menuangkan anggur pada gelas pria itu, "Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada istrimu, El."Keduanya memang sudah mengenal lama, bahkan semenjak sekolah. Hingga kini saja mereka masih bisa mengobrol seperti biasanya meskipun pria tersebut terlihat jelas membuat batas. "Terima kasih atas perhatianmu, Pat.""Ish, jangan memanggilku seperti itu. Aku lebih suka kau memanggilku dengan Cia daripada Pat!" protes wanita tersebut dengan bibir yang mengerucut. Jujur saja, Azael p
Read more