Tubuh Tari tergolek lemas di atas kasur yang sprei sudah berantakan tak keruan. Napasnya masih tersengal-sengal, dadanya yang berbentuk bukit barisan itu naik turun dengan cepat, memperlihatkan betapa dahsyatnya ledakan yang baru saja ia alami.Pram menjatuhkan tubuhnya ke sisi Tari, membiarkan keringat mereka menyatu di atas seprai yang lembap. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang juga masih berdegup kencang. Dengan lembut, Pram mengecup kening Tari, lalu turun ke pipinya, memberikan ciuman-ciuman kecil yang penuh kasih sayang sebagai tanda apresiasi atas permainan luar biasa malam itu."Aku belum loh, Mah. Amunisi aku masih numpuk banget di dalem sini, belum keluar semua tadi," bisik Pram dengan suara rendah yang serak, sembari jemarinya mengelus permukaan kulit perut Tari yang halus.Tari membuka matanya perlahan, menatap Pram dengan pandangan sayu yang penuh gairah. "Masukin dari samping aja kalau gitu, Pah. Aku masih agak lemes kalau harus telent
Read more