"Ayo, Mass, ke kamar yuk. Nggak usah banyak mikir lagi di sini," rengek Sinar sembari menarik lembut tangan Pram, menuntunnya menuju pintu rumah.Pram mengikuti langkah Sinar dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Di dalam benaknya, ia merasa sangat lega karena masalah Sisil akhirnya mendapatkan titik terang dan teratasi dengan sangat baik.'Hahhh, kelar juga akhirnya urusan ini. Kalau gini kan aku bisa cepet ambil libur buat jenguk Tari dan Sarah di kota sebelah. Aku udah kangen berat sama mereka berdua,' batin Pram sembari menapaki anak tangga yang dingin. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti di tengah tangga, ia menoleh ke arah koridor kamar Daniah yang nampak tertutup rapat."Nar, kalau ibumu tahu gimana? Kita berduaan di kamar kamu itu risiko banget lho," bisik Pram tepat di telinga Sinar.Sinar hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar nakal di kesunyian malam itu. "Nggak bakal tahu, Mas. Ibu itu tipe yang betah banget di kamar kalau udah rebahan, apal
Mehr lesen