Pram sama sekali tak tersinggung atau merasa terhinakan oleh rentetan kalimat beracun yang meluncur dari mulut Mugi. Alih-alih terpancing emosi, ia justru menatap pria paruh baya di hadapannya dengan pandangan iba. Dalam benak Pram, ia berpikir jika Mugi terlalu lama berendam dalam kolam kebencian dan rasa frustrasi atas kejatuhannya sendiri, sampai-sampai kapasitas berpikir otaknya mengalami korslet dan tidak mampu lagi melihat realitas dengan jernih. Bagi Pram, tuduhan-tuduhan Mugi tak lebih dari sekadar gonggongan tak berarti dari seorang pria kalah yang sedang mencari kambing hitam atas kemiskinannya sendiri.”Sudah ngomelnya, Pak?” tanya Pram santai, melipat kedua tangannya di atas meja makan sembari mengulas senyuman tipis yang sangat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh urat-urat kemarahan yang sempat menonjol di leher mantan suami Sisil tersebut.”Huuuhh,” Mugi hanya mendengus kasar, memalingkan wajahnya sejenak dengan dada yang naik turun tidak teratur, merasa kesal
Read more