Dengan suara keras “BANG!”, pintu ditutup dengan brutal. Gaungnya menggema di ruang yang sunyi, seolah jadi jeritan kemarahan yang tertahan di dada Felix.“Felix, sebenarnya kamu mau apa sih?!”Tamara benar-benar tersulut emosinya. Ia meronta kuat-kuat, matanya dipenuhi rasa muak dan amarah.Namun Felix seolah nggak dengar apa pun. Dalam tatapannya terpancar hasrat yang hampir gila. Ia tundukkan kepala dengan kasar, hendak cium Tamara.Mana mungkin Tamara biarkan itu. Ia gigit Felix sekuat tenaga. Seketika, rasa logam berkarat menyebar di dalam mulutnya.Felix terkejut oleh rasa sakit itu. Secara refleks ia sentuh sudut bibirnya. Saat menunduk, ia lihat jelas noda darah di ujung jarinya.Ia terdiam sesaat, lalu tersenyum, senyum yang penuh ejekan dan amarah.“Heh, Tamara, kamu sebegitunya nolak aku, sampai pindah keluar rumah. Pasti ada pria lain di luar sana, yah? Kakakmu cuma nutup-nutupi saja. Pria yang kamu jadikan selingkuhan itu jelas bukan orang sembarangan.”Mata Felix memerah,
Leer más