Tatapan tajam sang dokter bergantian menyapu wajah Jolin dan Felix. Di matanya tersirat emosi yang sulit dibaca, antara heran, curiga, dan sedikit rasa ingin tahu.Namun pada akhirnya, ia hanya mengatupkan bibir, nggak berkata apa-apa, lalu berbalik dan melangkah pergi dengan tenang.Wajah Jolin pucat pasi. Dengan tubuh sedikit gemetar, ia menatap Felix. Di matanya terlintas kilat kekecewaan yang sulit disembunyikan, suaranya terdengar seperti hampir menangis.“Kak Felix, untung kamu nggak apa-apa. Tapi Kak Tamara kejam banget sih. Kalau kamu sampai benar-benar terluka, gimana nasibmu nanti?”Felix menepuk bahu Jolin perlahan, sambil berusaha tenangkan, “Dokter sudah bilang nggak apa-apa, kan? Sudah malam, ayo kita pulang.”Namun di dalam hatinya, yang ia pikirkan hanya satu, apa Tamara sudah kembali ke rumah.Ia dipenuhi penyesalan. Ia ingin segera pulang, ingin jelaskan semuanya dengan baik-baik.Ia sadar, sikapnya malam ini benar-benar buruk. Ia nggak seharusnya bersikap dingin dan
อ่านเพิ่มเติม