Saat itu, sudut bibir Marco terangkat membentuk senyum kejam namun santai. Ia berkata dengan nada seolah sedang bicarakan hal remeh, “Kak, kan wajar saja kalau dia nggak mau ngaku. Menurutku, lempar saja dia ke air beberapa kali. Dalam dinginnya air dan ketakutan yang menekan, pasti semua kebenaran akan keluar dengan sendirinya.”Nada suaranya ringan, seakan yang dibicarakan hanyalah permainan kecil, bukan nasib hidup seseorang.Markus menyipitkan mata. Kilatan dingin melintas di pandangannya, lalu ia kibaskan tangan dengan kasar, beri isyarat pada para pengawal untuk bertindak.Para pengawal langsung maju seperti serigala kelaparan, mengepung Tamara, seakan detik berikutnya akan seret dia ke jurang tanpa ampun.“Tunggu dulu!”Di saat genting itu, Lina terengah-engah berlari masuk.Sekali pandang ia lihat kondisi Tamara, rambut kusut menempel di wajah, pakaian berantakan, tubuh penuh luka, rasa bersalah langsung menghantam dadanya.Tanpa peduli napasnya masih tersengal, ia berteriak, “
더 보기