Hujan belum juga reda ketika mobil Reisa berhenti di depan rumahnya. Reisa termenung menatap kaca mobil yang basah karena hujan. Matanya sembap. Aku turut prihatin dengan keadaannya. Aku menepuk pundaknya pelan. "Aku antar kamu ke kamar ya," dia diam, hanya mengangguk. Dia menarik napas panjang, menutupi wajahnya dengan sedikit riasan, dan memakai kacamata untuk menutupi matanya. Dia tersenyum keluar dari mobil. Aku tahu senyumnya palsu. Seperti biasa, Om Ivan duduk di kursi teras rumahnya. "Baru pulang, Ei?" Reisa mengangguk tersenyum. "Iya Pah, biasa nostalgia." Dia bergegas masuk ke dalam rumah. "Mari, Om," aku menyapa singkat Om Ivan. Di dalam kamar, tangis Reisa pecah tanpa suara. "Makasih ya, Nad, sudah nemenin aku hari ini." "Gak masalah. Tapi Rei, maaf banget aku gak bisa lama-lama. Apalagi sekarang sudah malam, kamu juga butuh waktu buat istirahat. Aku sudah mastiin kamu selamat sampai rumah. Aku pulang sekarang gak apa-apa, kan?" Reisa mengangguk. "Iya Na
Last Updated : 2026-03-03 Read more