Aku duduk di ranjang Reisa melihat dia yang sedang menangis di sampingku. "Kenapa, Rei?" Ditanya begitu, tangis Reisa malah semakin menjadi. Aku memeluknya, mengusap punggungnya agar dia sedikit tenang. "Enggak apa-apa, Rei, lepasin aja. Nangis sepuas kamu kalau itu bikin kamu tenang." Reisa terisak, berusaha untuk berbicara, tapi aku terus mengusap punggungnya supaya dia tenang dulu. Sebenarnya aku tidak terlalu berpengalaman dalam hal menenangkan orang yang menangis. Jadi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. "Tarik napas, keluarkan secara perlahan." Aku kasih dia arahan, tapi Reisa malah tersenyum. Dia duduk kembali menghadap ke arahku, mengusap air matanya. Sepertinya dia sudah siap menceritakan semuanya. "Nad, please jangan kasih tahu siapa pun tentang hal ini. Aku berani ngasih tahu ke kamu karena kamu sudah terlanjur mendengarkan obrolanku." Belum juga cerita, Reisa sudah mengancamku duluan. Emang aku Mak Rombeng, rahasia apa pun aku sebar-sebar ke semua orang
Last Updated : 2026-03-01 Read more