แชร์

bab 26

ผู้เขียน: Sora moon
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-25 14:44:46

Pukul delapan pagi. Lobi K Inc sudah sewangi aromaterapi sandalwood yang harganya bisa buat bayar kontrakan setahun. Aku berdiri di balik meja marmer hitam ini, memakai seragam blazer slim-fit yang memeluk tubuhku dengan sempurna. Rambutku dicepol rapi, menyisakan beberapa anak rambut yang sengaja diatur agar terlihat manis tanpa usaha.

Seorang investor paruh baya masuk dengan langkah gontai. Perut buncitnya hampir membuat kancing kemejanya menyerah.

"Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa saya b
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Manipulasi Hati CEO   bab 34

    Restoran ini terletak di lantai paling atas sebuah gedung galeri seni. Tidak ada kerumunan, tidak ada suara denting sendok dari meja lain. Raka benar-benar mengosongkan tempat ini. Hanya ada satu meja di sudut dengan pemandangan 360 derajat ke arah kerlap-kerlip Jakarta yang tampak seperti hamparan berlian di bawah kaki kami. Raka menarikkan kursi untukku. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, sangat kontras dengan sosoknya yang biasanya memerintah dengan telunjuk besi. "Kenapa tempat ini sepi sekali, Raka? Kamu mengusir semua orang?" tanyaku sambil merapikan gaun sutra hitamku. "Aku cuma ingin makan malam tanpa harus mendengar bisikan orang soal saham atau gosip bisnis," sahut Raka santai. Dia duduk di hadapanku, melepas satu kancing kemeja teratasnya. "Malam ini, cukup ada aku dan kamu. Anggap saja hadiah karena kamu sudah jadi 'istri' yang sangat meyakinkan akhir-akhir ini." "Hadiah atau sogokan supaya aku tidak membongkar brankasmu lagi?" sindirku sambil tersenyum miring. R

  • Manipulasi Hati CEO   bab 34

    Pagi ini Jakarta diguyur hujan sisa semalam. Suara rintiknya yang menghantam kaca jendela apartemen menciptakan irama yang menenangkan. Aku baru saja selesai mandi, masih memakai bathrobe putih handuk yang kebesaran, saat melihat Raka berdiri di depan mesin kopi. Dia hanya memakai celana bahan hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Tidak ada dasi, tidak ada jas kaku. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, jatuh menutupi keningnya—pemandangan yang jauh lebih berbahaya bagi jantungku daripada saat dia memakai setelan bisnis triliunannya. "Berhenti menatapku seolah aku ini menu sarapanmu, Nadia," celetuk Raka tanpa menoleh, namun ada nada geli di suaranya. "Percaya diri sekali," sahutku sambil berjalan menghampiri. Aku mengambil cangkir kopi yang baru saja dia tuang. "Aku cuma heran, kok ada CEO yang bangun jam segini cuma buat bikin kopi sendiri." Raka berbalik, menyandarkan pinggangnya di konter dapur. Dia menatapku lama, tatapan yang tidak lagi tajam seperti di kantor

  • Manipulasi Hati CEO   bab 32

    Lampu jalanan Jakarta berpendar cepat di balik kaca jendela Mercedes yang melaju menuju apartemen. Di sampingku, Raka terpejam, tapi aku tahu dia tidak tidur. Tangan kanannya masih menggenggam jemariku—sebuah gestur yang dulu kuanggap pelindung, namun kini terasa seperti borgol emas. Aku memalingkan wajah ke jendela, menatap pantulan diriku yang samar. Pikiranku justru melayang mundur ke Minggu pagi itu. Saat matahari belum sepenuhnya naik dan Raka masih terlelap karena pengaruh wiski semalam sebelumnya. Saat itu, aku berdiri di depan meja kerja jati miliknya. Jantungku berdegup seperti genderang perang. Klik. Suara mekanisme brankas itu terdengar begitu nyaring di kesunyian subuh. Aku menahan napas, melirik ke arah ranjang, memastikan si harimau tidak terbangun. Aman. Pintu baja itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma dingin logam dan kertas-kertas mahal. Niat awal hanyalah mengambil seratus juta untuk membungkam mulut Hardi. Namun, jemariku yang lancang justru menyentuh sebua

  • Manipulasi Hati CEO   bab 31

    Gedung pertemuan di pusat kota itu tampak megah dengan dekorasi bunga lili putih yang menjuntai di setiap sudut. Harum melati yang kuat menyambut kami begitu pintu ballroom terbuka. Aku mempererat kaitan lenganku pada Raka, menyesuaikan langkah dengan ritme sepatunya yang tegas. Malam ini, aku mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang jatuh pas di tubuhku—elegan, tidak mencolok, namun tetap memancarkan kelas seorang istri pengusaha besar. "Ingat, Nadia. Cukup jadilah pendamping yang sopan. Tidak perlu drama," bisik Raka datar. Wajahnya lurus ke depan, rahangnya kokoh seolah-olah dia sedang menuju meja perundingan bisnis, bukan pesta pernikahan mantan. "Aku tahu protokolnya, Raka. Senyum, sapa, dan terlihat bahagia. Mudah," sahutku pelan dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan seorang istri yang sedang bermanja. Kami menaiki anak tangga pelaminan. Di sana, Alika berdiri dengan gaun putih lebarnya. Di sampingnya stands Mark, pria berkebangsaan asing yang tampak ga

  • Manipulasi Hati CEO   bab 30

    Lantai marmer mall kelas atas ini mengkilap seperti cermin, memantulkan wajah-wajah borjuis yang hilir mudik dengan tas belanjaan senilai harga motor matic. Aku berjalan di samping Raka, dagu terangkat, langkah mantap meski di dalam saku celanaku, tanganku masih terasa sedikit dingin. Bau selokan Tambora tadi pagi seolah masih membayangi indra penciumanku, tapi di sini, aroma parfum niche dan pendingin ruangan yang sejuk segera membilasnya. Raka tidak bicara banyak. Dia berjalan dengan satu tangan di saku celana chino-nya, sementara tangan satunya sesekali memeriksa jam tangan. Tatapannya lurus, seolah-olah semua barang mewah di sekelilingnya hanyalah sampah yang kebetulan diletakkan di rak. "Pilih butik yang paling mahal, Nadia. Aku tidak punya waktu seharian," ucapnya tanpa menoleh. "Sabar, Bos. Memilih senjata untuk menghancurkan mental mantan itu butuh ketelitian," sahutku sambil melirik sebuah butik dengan logo desainer ternama. "Lagipula, kartu kreditmu kan sudah siap mental

  • Manipulasi Hati CEO   bab 29

    Minggu pagi di Jakarta biasanya tenang, tapi tidak untuk otakku yang sudah menyusun strategi sejak fajar menyingsing. Raka masih terlelap, napasnya teratur, tangannya masih posesif melingkar di bantal yang harusnya menjadi batas wilayah kami. Aku beringsut pelan, keluar dari kemelut selimut sutra itu tanpa suara. Aku tidak akan membiarkan Raka membereskan Hardi dengan caranya yang membosankan—alias membuang uang. Orang seperti Hardi itu seperti parasit; dikasih makan sedikit, dia bakal tumbuh makin besar. Dia harus dipotong sampai ke akarnya. Aku memakai hoodie hitam kebesaran dan celana denim santai. Tidak ada blazer merah, tidak ada sanggul rapi. Aku hanya Nadia yang ingin jalan-jalan pagi. Begitu aku berhasil keluar dari unit studio tanpa membangunkan si Bos Diktator, aku langsung memesan taksi online menuju alamat yang sempat kubaca sekilas dari berkas lama di meja Raka. Kawasan Tambora. Padat, kumuh, dan pengap. Kontras sekali dengan lobi K Inc yang sewangi cendana. Aku turu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status