“Vera, jangan setega ini padaku. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi .…”Aku merasa mual. Secara naluriah, tubuhku menolak Omar. “Omar, lepaskan aku!”“Tidak. Kalau kamu tidak mau rujuk denganku dan pulang ke negara kita bersamaku, aku tidak akan melepaskan kamu.”Saat aku kebingungan tak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari Omar, sebuah suara laki-laki yang dingin dan tegas tiba-tiba terdengar, “Tidak dengar dia menyuruhmu melepaskannya?”Aku menoleh ke arah suara itu, dan mataku langsung berbinar. “Bagas, tolong aku!”Sebelum Omar sempat bereaksi, Bagas sudah sigap menarikku ke dalam pelukannya. Melihat kami yang tampak begitu akrab dan alami, alis Omar langsung mengernyit, sorot matanya penuh permusuhan saat menatap Bagas.“Vera, siapa dia?”“Dia te ....”Aku hampir saja menyebut Bagas sebagai teman masa kecilku. Namun demi mematahkan harapan Omar sepenuhnya, sebuah ide muncul di kepalaku. Aku pun langsung merangkul lengan Bagas dengan mesra, lalu berkata dengan wajah manis, “
Read more